Raksasa teknologi asal Cupertino, Apple, sedang berada di persimpangan jalan besar yang akan mengubah wajah portofolio produk mereka dalam beberapa tahun ke depan. Fokus utama saat ini tertuju pada pengembangan "iPhone Air", sebuah model baru yang diprediksi akan mengutamakan estetika desain ultra-tipis di atas segalanya. Perangkat ini memicu diskusi hangat mengenai sejauh mana Apple bersedia mengorbankan spesifikasi demi bentuk yang ramping.
Salah satu poin krusial dalam pengembangan iPhone Air adalah teknologi baterai. Apple kabarnya mempertimbangkan penggunaan baterai silikon-karbon (silicon-carbon) untuk model generasi kedua guna menjaga daya tahan baterai tetap mumpuni meski bodinya sangat tipis. Selain itu, muncul spekulasi mengenai penggunaan vibrating surface speaker, teknologi yang memungkinkan layar berfungsi sebagai pengeras suara, sehingga menghemat ruang internal perangkat.
Tren ponsel lipat yang sudah lebih dulu dipopulerkan kompetitor seperti Samsung kini mulai diseriusi oleh Apple. Kehadiran iPhone lipat (foldable) memicu pertanyaan besar bagi ekosistem internal mereka: apakah perangkat ini akan membunuh iPad mini? Jika iPhone lipat mampu bertransformasi menjadi tablet kecil, peran iPad mini sebagai perangkat komputasi kompak mungkin akan segera berakhir.
Di sisi lain, pembaruan perangkat keras tradisional tetap dinantikan. iPad generasi ke-11 diperkirakan akan segera mendapat penyegaran untuk tetap relevan di pasar tablet kelas menengah. Apple juga berencana merampungkan transisi layar OLED dengan teknologi ProMotion ke seluruh jajaran laptop mereka. Namun, muncul kekhawatiran mengenai "MacBook Neo" yang berisiko memakan pangsa pasar iPad jika posisinya tidak dibedakan dengan jelas.
Kejutan terbesar yang menjadi sorotan adalah rencana pengunduran diri Tim Cook sebagai CEO Apple pada 1 September 2026. Kabar ini menandai akhir dari era pertumbuhan finansial masif di bawah kepemimpinan Cook. John Ternus, yang saat ini menjabat sebagai bos teknik perangkat keras (hardware engineering), telah ditunjuk sebagai suksesor potensial untuk memimpin Apple masuk ke dekade berikutnya.
Perubahan kepemimpinan ini terjadi di tengah kritik terhadap perkembangan perangkat lunak Apple. HomePod, misalnya, dinilai masih tertinggal jauh dari Amazon Alexa dalam hal otomatisasi rumah pintar. Siri dan HomePod masih sangat bergantung pada fitur Shortcuts untuk menjalankan rutinitas yang sebenarnya bisa dilakukan secara natural oleh kompetitornya. Masa depan visionOS juga menjadi tanda tanya besar, apakah sistem operasi ini bisa matang dalam beberapa tahun ke depan untuk mendukung Vision Pro.
Bagi konsumen di Indonesia, peta jalan produk Apple ini memberikan gambaran mengenai anggaran yang perlu disiapkan. Harga MacBook Pro yang terus merangkak naik—dengan model kelas atas yang kini bisa menembus angka Rp 60 juta hingga Rp 80 juta—membuat banyak pengguna mulai melirik alternatif atau mempertimbangkan apakah harga tersebut masih masuk akal untuk produktivitas harian.
Kehadiran merek penantang seperti Nothing juga mulai mencuri perhatian pengguna gadget tanah air yang bosan dengan desain arus utama. Meski begitu, ekosistem Apple yang kuat tetap menjadi daya tarik utama. Pertanyaan personal seperti "perangkat apa yang paling esensial" sering kali berujung pada iPhone atau Apple Watch, yang bagi sebagian orang sudah cukup untuk menggantikan peran ponsel sepenuhnya dalam skenario tertentu.
Satu hal yang pasti, transisi kepemimpinan ke John Ternus pada 2026 akan menjadi ujian apakah Apple tetap bisa berinovasi secara radikal atau hanya sekadar melakukan penyempurnaan kecil pada produk yang sudah ada. Pengguna di Indonesia tentu berharap inovasi seperti iPhone lipat tidak hanya hadir sebagai produk mewah, tetapi juga membawa fungsionalitas nyata yang mempermudah hidup digital mereka.