SEMARANG — Bank Indonesia mencatat tekanan harga di Jawa Tengah melandai setelah perayaan Idulfitri 1447 H. Penurunan permintaan masyarakat memicu koreksi harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil deflasi sebesar 0,22 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan dan kembalinya pola konsumsi warga ke level normal. Selain komoditas pangan, penurunan harga juga terdeteksi pada komoditas emas perhiasan dan tarif angkutan antar kota.
“Deflasi Jawa Tengah terutama disumbang oleh komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit,” ujar Noor Nugroho di Semarang, Selasa (5/5/2026).
Meski secara umum mengalami deflasi, sejumlah komoditas masih menunjukkan kenaikan harga yang cukup signifikan. Kelompok penyediaan makanan dan minuman restoran menyumbang andil inflasi sebesar 0,09 persen akibat kenaikan biaya energi.
Noor Nugroho merinci, kenaikan harga minyak goreng dipicu oleh fluktuasi harga kelapa sawit dunia dan beban produksi kemasan. Di sisi lain, harga nasi dengan lauk serta tarif angkutan udara juga masih merangkak naik selama periode April tersebut.
“Kenaikan harga minyak goreng dipengaruhi harga kelapa sawit dan biaya produksi kemasan,” ungkapnya. Selain itu, sektor teknologi juga terdampak kenaikan harga komponen elektronik yang menyebabkan harga telepon seluler dan laptop di pasar lokal meningkat.
Secara spasial, pergerakan harga di Jawa Tengah menunjukkan tren yang beragam antar wilayah. Sebagian besar kabupaten mencatatkan deflasi bulanan dengan angka yang bervariasi.
Kondisi ini menggambarkan distribusi pasokan pangan yang mulai merata di daerah penyangga, meskipun kota-kota besar masih merasakan sisa tekanan permintaan sisa momentum Lebaran.
Jika ditarik secara tahunan, inflasi Jawa Tengah pada April 2026 berada di angka 2,11 persen (yoy). Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang menyentuh 2,42 persen pada periode yang sama.
Komoditas seperti beras, minyak goreng, dan emas perhiasan masih menjadi motor utama inflasi tahunan. Namun, lajunya tertahan oleh penurunan harga pada tiga komoditas bumbu dapur utama, yakni bawang putih, bawang merah, dan cabai merah.
“Inflasi tertahan oleh penurunan harga bawang putih, bawang merah, dan cabai merah,” tegas Noor Nugroho.
Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) berkomitmen memperkuat koordinasi lintas sektor. Langkah ini bertujuan memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi guna menjaga inflasi tetap berada pada sasaran 2,5±1 persen hingga akhir tahun.