JAWA TENGAH — Berdasarkan data pasar spot pada pukul 09.04 WIB, rupiah tercatat melemah 0,43 persen dibandingkan posisi penutupan Senin (11/5) di Rp17.414 per dolar AS. Posisi ini sekaligus lebih rendah dari kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI yang berada di Rp17.415 pada hari sebelumnya.
Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai faktor eksternal masih menjadi pemberat utama pergerakan rupiah. Ia merujuk pada pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menilai tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS sebagai hal yang "sama sekali tidak dapat diterima".
"Pernyataan itu langsung meningkatkan premi risiko geopolitik, mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas," ujar Ibrahim. Situasi ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tertekan.
Di tengah tekanan eksternal, Bank Indonesia (BI) merilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 yang berada di level 123,0. Angka ini naik tipis dari 122,9 pada Maret 2026 dan masih berada di zona optimistis (di atas 100).
Kenaikan IKK didorong oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 115,4 menjadi 116,5. Artinya, persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan daya beli mengalami perbaikan. Namun, data ini belum cukup menjadi katalis positif bagi rupiah di hadapan dominasi dolar yang agresif.
Komponen lain dalam survei BI, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), justru turun tipis dari 130,4 menjadi 129,6. Meski masih dalam zona optimistis, penurunan ini mengindikasikan bahwa konsumen sedikit lebih moderat dalam memproyeksikan kondisi ekonomi enam bulan ke depan.
Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif hingga akhir sesi perdagangan hari ini. "Rupiah diperkirakan ditutup melemah di rentang Rp17.410 hingga Rp17.460 per dolar AS," ujarnya.
Pelemahan rupiah yang berkelanjutan menjadi sinyal waspada bagi investor pasar modal dan obligasi. Imbal hasil investasi dalam rupiah berpotensi tergerus oleh depresiasi nilai tukar. Pelaku bisnis yang memiliki utang dalam dolar AS juga akan merasakan tekanan biaya yang meningkat.
Investasi mengandung risiko. Pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran dan data inflasi AS yang akan dirilis dalam pekan ini.