BOYOLALI — Ratusan pembudidaya ikan di Waduk Cengklik, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, panik setelah ikan mereka mati bergelimpangan dalam hitungan jam. Dari catatan Dinas Perikanan setempat, total kerugian sementara mencapai Rp 600 juta lebih, dengan bobot ikan mati melampaui 12 ton.
Fenomena yang menimpa waduk seluas 250 hektare ini bukan wabah penyakit, melainkan upwelling. Kepala Dinas Perikanan Boyolali, Budi Prasetyo, menjelaskan bahwa guyuran air hujan deras beberapa hari terakhir membuat suhu permukaan air turun drastis. Akibatnya, lapisan air di dasar waduk yang bersuhu lebih hangat, minim oksigen, dan kaya gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida, naik ke permukaan. Ikan di karamba langsung keracunan dan mati lemas.
Budi menyebutkan, kematian menyebar dari satu karamba ke karamba lain dengan sangat cepat. “Ikan mulai menggelepar pagi hari, menjelang siang sudah mati semua. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain memanen darurat yang masih hidup,” ujarnya. Dinas Perikanan bersama BPBD Boyolali kini fokus pada evakuasi bangkai ikan untuk mencegah pencemaran air waduk yang lebih luas.
Pemerintah Kabupaten Boyolali mengimbau para pembudidaya untuk tidak menebar bibit baru dalam sepekan ke depan, hingga kualitas air benar-benar pulih. Dinas Perikanan juga akan memasang alat sirkulasi udara tambahan di titik-titik rawan upwelling. “Kami akan monitoring suhu dan kadar oksigen secara berkala. Jika cuaca ekstrem kembali terjadi, petani diminta mengurangi kepadatan ikan di karamba,” tambah Budi.
Waduk Cengklik merupakan salah satu sentra budidaya ikan air tawar di Boyolali dengan produksi mencapai 200 ton per tahun. Peristiwa ini menjadi yang terparah dalam lima tahun terakhir, mengingatkan kembali pada kejadian serupa di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri pada 2023 lalu, yang juga dipicu fenomena upwelling akibat perubahan cuaca ekstrem.