SEMARANG — Sekitar 100 pengelola media lokal dari Semarang, Kudus, Solo, Banyumas, hingga kawasan Pantura duduk bersama dalam Jateng Media Summit (JMS) 2026, Rabu (20/5). Mereka membahas peta jalan baru untuk menghadapi disrupsi digital yang mengubah cara warga mengakses berita.
Ketua Panitia JMS 2026, Nur Kholis, melaporkan bahwa 30 persen peserta yang hadir merupakan pengelola “homeless media”. Istilah ini merujuk pada entitas media baru yang bergerak lincah di ranah digital tanpa kantor fisik atau infrastruktur cetak.
Fenomena ini disebut sebagai respons atas perubahan drastis model bisnis. Inisiator acara sekaligus CEO PT Arkadia Digital Media Tbk, Suwarjono, memperingatkan bahwa masa depan industri akan didominasi sistem distribusi konten otomatis kepada audiens sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat.
“Kalau tidak kita antisipasi sekarang, kita perlu ngobrol Peta Jalan Baru Media Lokal Jawa Tengah. Kita kalau tidak segera melakukan cara-cara baru atau model-model baru bisa tenggelam,” tegas Suwarjono.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan media lokal. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemprov Jateng, Iwanuddin Iskandar, memastikan pihaknya siap membangun kolaborasi dengan semua media di daerah.
“Kami siap berkolaborasi dengan semua media. Kalau ada informasi kepala daerah kabupaten kota tidak bisa berkolaborasi dengan media, laporkan ke kami,” ujarnya di hadapan peserta.
Iwanuddin juga menyoroti ancaman hoaks yang kian canggih. Ia menyebut manipulasi deepfake video dan suara berbasis AI menjadi tantangan besar yang harus dihadapi bersama.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sarif Abdillah, menekankan peran strategis media sebagai penjaga arah demokrasi. Menurutnya, kualitas narasi yang disajikan media menentukan masa depan peradaban masyarakat.
“Peradaban tanpa narasi yang baik akan terjadi kemunduran pemahaman, kemunduran ideologi, kemunduran visi, dan akan hilang peradaban tersebut. Semoga ini menjadi awal kita untuk langkah ke depan,” kata Sarif.
JMS 2026 merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang diawali dengan Bimbingan Teknis pengelolaan website pemerintah daerah. Dalam sesi tersebut, etika penggunaan AI menjadi salah satu topik utama.
Iwanuddin menambahkan bahwa penggunaan AI oleh media harus tetap berpegang pada etika jurnalistik. “Maka penggunaan AI juga perlu ada etika serta memberikan informasi yang sebenarnya dan fakta di lapangan,” tambahnya.
Forum ini diharapkan menjadi titik awal bagi media lokal di Jawa Tengah untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas dan kredibilitas di mata publik.