SALATIGA — Sebanyak 14 ekor sapi milik 11 peternak di Kelurahan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo, menjadi sasaran pertama program sinkronisasi birahi yang digelar Dispangtan Kota Salatiga. Kegiatan ini merupakan proyek percontohan atau pilot project yang baru pertama kali dilaksanakan oleh bidang peternakan dan kesehatan hewan setempat.
“Sinkronisasi birahi pada sapi ini merupakan program pilot project Dispangtan Kota Salatiga melalui Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan,” kata Sekretaris Dispangtan Salatiga, Inna Kartikasari, kepada wartawan Disway Jateng-DIY.
Sinkronisasi birahi adalah salah satu bioteknologi reproduksi yang menggunakan hormon untuk menyeragamkan siklus birahi pada sapi. Dalam praktiknya, tim dokter hewan yang diterjunkan Dispangtan menyuntikkan hormon pertama kepada sapi-sapi akseptor di wilayah Tetep Wates, Kumpulrejo.
“Hari ini dilaksanakan penyuntikan hormon yang pertama. Harapannya kegiatan ini dapat mengoptimalkan inseminasi buatan dan menambah populasi ternak khususnya sapi di kota Salatiga,” terang Inna.
Inna menjelaskan, mekanisme sinkronisasi birahi pada sapi berbeda dengan program bayi tabung pada manusia. Jika bayi tabung memasukkan embrio, dalam program ini yang dimasukkan saat inseminasi buatan adalah semen beku atau sperma yang dibekukan.
“Fungsi atau gunanya suntik hormon, mensinkronkan waktu birahi dengan harapan beranaknya bisa bersamaan,” ujarnya.
Setelah penyuntikan hormon pertama, sapi akan menunjukkan tanda birahi dalam waktu sekitar satu pekan. Jika tanda birahi muncul, tim dokter hewan akan segera melakukan inseminasi buatan. Namun, jika tidak menunjukkan birahi pada pekan depan, suntikan hormon akan diulang kembali.
“Setelah suntik IB akan dicek kebuntingan 2 bulan kemudian,” terang Inna.
Program ini diharapkan mampu mengoptimalkan inseminasi buatan dan secara langsung menambah populasi sapi di Kota Salatiga. Dengan kelahiran yang serempak, peternak juga bisa merencanakan perawatan dan pakan anak sapi secara lebih efisien.
Dispangtan Salatiga belum menyebutkan jadwal pasti untuk memperluas program ke wilayah lain. Namun, keberhasilan pilot project di Kumpulrejo akan menjadi dasar evaluasi untuk penerapan serupa di kelurahan lain di kota tersebut.