Rupiah Terus Tertekan ke Rp17.844, Konflik Timur Tengah dan Kebutuhan Valas Jadi Beban Ganda

Penulis: Faizal Ramadhan  •  Senin, 01 Juni 2026 | 10:28:51 WIB
Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.844 seiring tekanan dari konflik Timur Tengah dan kebutuhan valas.

JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 37 poin atau 0,21 persen pada sesi pertama perdagangan pekan ini. Pelemahan ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya, di mana won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,71 persen. Yen Jepang, baht Thailand, dan yuan China juga kompak berada di zona merah pada pembukaan pagi ini.

Dua Sumber Tekanan: Perang Dagang dan Kebutuhan Likuiditas Dolar

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah saat ini masih dalam fase konsolidasi. Menurutnya, pasar masih wait and see terhadap perkembangan negosiasi AS-Iran yang belum menunjukkan titik terang. "Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) menyoroti faktor domestik yang turut memperberat rupiah. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa tekanan terhadap nilai tukar tidak hanya dipicu konflik global, tetapi juga peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman. Kebutuhan ini muncul dari pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen perusahaan, sementara arus masuk dolar AS masih terbatas.

BI Siaga Intervensi, Pasar Tunggu Data Inflasi dan Perdagangan

Untuk mengantisipasi volatilitas yang lebih dalam, BI menegaskan komitmennya untuk hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan dalam pernyataan resminya pada Jumat (29/5) lalu.

Para pelaku pasar kini mengalihkan fokus ke data ekonomi domestik yang akan dirilis besok, yaitu inflasi dan neraca perdagangan. Data ini akan menjadi indikator kunci bagi arah kebijakan moneter ke depan. Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS pada hari ini, dengan potensi penguatan jika harga minyak terus menurun.

Apa Dampaknya bagi Investor dan Pelaku Bisnis?

Bagi investor, pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat menekan imbal hasil portofolio, terutama pada aset berbasis rupiah seperti obligasi dan saham. Sementara itu, pelaku bisnis yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, seperti importir atau perusahaan yang memiliki utang luar negeri, akan menghadapi beban biaya yang lebih tinggi. Di sisi lain, sektor eksportir berpotensi mendapatkan keuntungan dari daya saing harga yang lebih baik di pasar global.

Investasi mengandung risiko. Pergerakan nilai tukar yang fluktuatif menuntut pengelolaan risiko yang cermat, terutama bagi korporasi yang memiliki eksposur valas signifikan.

Reporter: Faizal Ramadhan
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top