JAWA TENGAH — Laporan keuangan unaudited enam bulan pertama 2026 menunjukkan betapa dalam luka finansial Waskita. Perusahaan membukukan rugi bersih antara Rp1,92 triliun hingga Rp2,17 triliun. Meskipun pendapatan usaha melonjak 58% menjadi Rp4,91 triliun, beban pokok pendapatan justru membengkak lebih besar, yakni 80% menjadi Rp4,41 triliun.
Akibatnya, margin laba kotor perusahaan tergerus drastis dari 21,3% menjadi hanya 10,2%. Arus kas dari operasional pun tertekan hingga minus Rp1,5 triliun. Penyebabnya: pengeluaran besar ke pemasok dan subkontraktor, beban keuangan Rp1,90 triliun, serta cicilan pokok utang bank.
Utang Proyek Tol Jadi Beban Terberat
Krisis ini merupakan akumulasi dari strategi ekspansi agresif di masa lalu, terutama pembangunan jalan tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatra. Proyek-proyek ini butuh investasi modal raksasa di awal dengan masa pengembalian panjang. Waskita membiayainya lewat pinjaman bank dan obligasi berbiaya tinggi.
Ketika volume lalu lintas belum mencapai titik impas, beban bunga dan depresiasi langsung menggerogoti neraca. Beberapa ruas tol yang menjadi pemicu utama antara lain Tol Cimanggis-Cibitung (investasi Rp10,6 triliun), Tol Bocimi (Rp7,7 triliun hingga Rp12 triliun), Tol Pasuruan-Probolinggo (Rp6,3 triliun), dan Tol Kayu Agung-Palembang-Betung (Rp22,1 triliun).
Untuk meredakan tekanan, Waskita telah melepas kepemilikan saham di Tol Cimanggis-Cibitung senilai Rp3,28 triliun. Sementara itu, penyelesaian Tol Bocimi dan Kapalbetung sebagian diambil alih oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan PT Hutama Karya.
Danantara Siapkan Operasi Besar-besaran
Pemerintah melalui Danantara Indonesia dan Kementerian BUMN tidak tinggal diam. Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia Dony Oskaria mengungkapkan telah menggelar pertemuan mendalam dengan direksi Waskita pekan ini. Fokus pembahasan meliputi pemetaan aset, struktur utang, proyeksi arus kas, hingga model bisnis baru yang lebih berkelanjutan.
"Restrukturisasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk bukan sekadar memperpanjang waktu penyelesaian kewajiban atau menunda persoalan yang ada. Proses penyehatan harus disusun berdasarkan perhitungan yang realistis, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan untuk menghasilkan solusi permanen bagi keberlanjutan perusahaan," tegas Dony.
Waskita kini menjadi proyek percontohan pertama bagi Danantara dalam membenahi keuangan BUMN Karya. Jika berhasil, skema restrukturisasi ini bisa diterapkan ke perusahaan pelat merah lain yang bernasib serupa. Jika gagal, risiko kebangkrutan dan gagal bayar proyek infrastruktur negara akan semakin nyata.