JAWA TENGAH — Kabar buruk bagi pemegang saham Tesla. Harga saham produsen mobil listrik asal Amerika Serikat itu ambrol lebih dari 12 persen dalam sepekan terakhir, tepat setelah rilis laporan keuangan kuartal kedua 2026 yang dirilis pekan lalu. Kapitalisasi pasar yang lenyap mencapai 140 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 2.240 triliun dengan kurs Rp 16.000 per dolar AS.
Yang bikin investor gerah bukan cuma angka di laporan laba rugi, melainkan isi konferensi pers setelahnya. Elon Musk kembali memainkan narasi yang sama: robotaxi dan robot humanoid Optimus. Bedanya, kali ini pasar tidak lagi terhibur.
Pendapatan Rekor Tapi Margin Jebol, Arus Kas Negatif
Secara top-line, Tesla sebenarnya mencatat rekor. Pendapatan kuartal II 2026 mencapai 28,24 miliar dolar AS, naik 26 persen dibanding tahun lalu. Pengiriman kendaraan juga pecah rekor: 480.126 unit. Tapi semua pencapaian itu dibeli mahal.
- Laba operasi turun 57 persen menjadi hanya 398 juta dolar AS.
- Margin operasi kolaps ke 1,4 persen, dari 4,1 persen setahun sebelumnya.
- Laba disesuaikan per saham 0,33 dolar AS, jauh di bawah ekspektasi Wall Street yang 0,53 dolar AS.
- Arus kas bebas negatif 1,09 miliar dolar AS, pertama kalinya dalam beberapa tahun.
- Belanja modal melonjak 142 persen menjadi 5,79 miliar dolar AS.
Rekor pengiriman pun ada catatannya. Tesla mengandalkan insentif besar-besaran, terutama skema pembiayaan murah. Itu langsung menggerus margin otomotif. Sementara pendapatan dari kredit regulasi—yang selama ini jadi sumber cuan instan—turun 67 persen menjadi 146 juta dolar AS. Sumur emas itu mulai kering.
Janji Robotaxi dan Optimus: Data Bicara Lain
Di atas kertas, Musk mengklaim Tesla sudah mencatatkan lebih dari 380.000 mil berkendara tanpa pengawasan di enam kota, tanpa insiden berarti. Tapi definisi "berarti" di sini sepenuhnya ditentukan Tesla sendiri. Sebagai perbandingan, Waymo—kompetitor utama di ranah otonom—mengumpulkan jarak tempuh sebanyak itu hanya dalam waktu sekitar satu hari. Tesla butuh enam bulan.
Data internal yang dipresentasikan sendiri oleh Tesla menunjukkan pertumbuhan flat. Jarak tempuh robotaxi berbayar stagnan di angka 900.000 mil secara kuartalan. Jumlah armada aktif tanpa pengawasan justru menyusut, tinggal sekitar 21 unit. Hari-hari sebelum laporan keuangan, Tesla memang membuka area layanan baru di Orlando dan Tampa, tapi itu hanya menyebarkan jumlah kendaraan yang sama ke lebih banyak kota—bukan menambah total perjalanan.
Musk kembali mengakui bahwa faktor keamanan jadi penghambat utama, terutama dalam menangani kasus tepi (edge cases) yang tak terduga. Ini bukan pertama kalinya ia menggeser target. Klaim 380.000 mil tanpa insiden juga tidak impresif jika kendaraan hanya beroperasi di area terbatas (geofenced) dengan kecepatan rendah. Menghindari kecelakaan dalam skenario semacam itu sejatinya adalah fungsi dasar dari pagar pembatas sistem.
Soal Optimus, Musk berargumen robot humanoid Tesla akan jadi yang pertama mampu melakukan tugas umum tanpa pemrograman. Masalahnya, semua perusahaan robot humanoid di dunia sedang mengejar terobosan yang persis sama: kecerdasan fisik dan pembelajaran umum. Tidak ada data dari kuartal ini yang membuktikan Tesla unggul. Produksi massal masih di ujung jalan.
Dilema: Mobil Listrik vs Cerita AI
Ironisnya, saat saham Tesla ambrol, harga minyak mentah justru naik 5 persen ke atas 90 dolar AS per barel. Kondisi itu seharusnya mendorong permintaan mobil listrik. Tapi Tesla sudah dua tahun terakhir membingkai ulang dirinya sebagai perusahaan AI, bukan pabrikan otomotif. Kapitalisasi pasarnya digantungkan pada cerita robot dan robotaxi. Begitu cerita itu goyah, seluruh struktur ikut runtuh—kenaikan harga BBM tak bisa menopang.
Saat ini, 1,48 juta pelanggan FSD (Full Self-Driving) membayar untuk fitur bantuan pengemudi level 2 yang tetap diawasi. Bukan untuk masa depan robotaxi tanpa pengemudi yang dijanjikan. Lebih dari 140 miliar dolar AS kepercayaan investor lenyap dalam sehari. Tersisa pertanyaan: berapa banyak lagi deadline yang harus meleset sebelum pasar berhenti membayar di muka?