BOYOLALI — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali angkat bicara soal keresahan orang tua yang menghadapi anak balita mengalami Gerakan Tutup Mulut (GTM). Alih-alih langsung panik, pihak dinas justru menyoroti kesalahpahaman di kalangan ibu mengenai Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).
Selama ini, banyak ibu enggan berkreasi karena mengira menu MPASI harus mahal dan menyita waktu. "Padahal, kuncinya bukan pada harga bahan, melainkan pada konsistensi jadwal, porsi, dan variasi rasa," ujar perwakilan Dinkes Boyolali dalam sosialisasi terbaru.
Dinkes Boyolali menegaskan bahwa nilai gizi MPASI tidak ditentukan oleh harga bahan baku. Protein hewani seperti telur, ikan asin, atau hati ayam yang terjangkau bisa menjadi sumber nutrisi utama. Justru, masalah muncul ketika orang tua tidak konsisten dalam menerapkan jadwal makan.
Untuk mengatasi GTM, Dinkes Boyolali merekomendasikan penerapan aturan Feeding Rules. Aturan ini mencakup tiga hal utama: jadwal makan yang ketat (setiap 3-4 jam), durasi makan maksimal 30 menit, dan tidak ada camilan atau susu di luar jadwal. "Jika anak menolak, jangan dipaksa. Tunggu jadwal berikutnya. Ini melatih disiplin lapar pada anak," jelasnya.
Dinkes Boyolali mencatat, kecemasan ibu justru memperburuk siklus GTM. Ketika ibu cemas, anak ikut merasakan tekanan. Dengan pemahaman baru bahwa MPASI tidak ribet, para ibu diharapkan lebih tenang dan percaya diri. "Ibu yang tenang akan menularkan energi positif pada anak saat makan," pungkasnya.
Program edukasi ini menyasar ibu-ibu di posyandu dan puskesmas di seluruh Boyolali. Pemerintah berharap, dengan pemahaman yang benar, angka balita GTM dan malnutrisi di Boyolali bisa ditekan secara signifikan dalam waktu dekat.