SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang memperkenalkan strategi ketahanan pangan perkotaan ke panggung nasional dalam forum Urban Talks Jakarta Future Festival (JFF) 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, baru-baru ini. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menjadi narasumber diskusi panel yang membahas strategi membangun kota berketahanan pangan di tengah keterbatasan kewenangan daerah terhadap mekanisme pasar.
Dalam forum tersebut, Agustina menyampaikan bahwa persoalan pangan perkotaan masih kerap luput dari fokus utama perencanaan pembangunan kota besar. Padahal, dampaknya langsung dirasakan masyarakat setiap hari.
Agustina mengungkapkan data bahwa luas lahan sawah di Kota Semarang saat ini tercatat sekitar 2.000 hektare. Jumlah produksi beras lokal dari lahan tersebut baru mampu mencukupi sekitar 11 persen dari total kebutuhan konsumsi masyarakat.
"Belum termasuk komoditas daging dan ayam. Kami di pemerintahan tidak memiliki sistem pengendalian maupun penentuan harga karena kendali sepenuhnya berada di pasar," kata Agustina dalam forum tersebut.
Menghadapi keterbatasan itu, Pemkot Semarang mengandalkan program Pak Rahman sebagai instrumen intervensi harga pangan. Program ini dinilai sukses menjaga stabilitas harga dan menekan inflasi di tingkat kota.
Agustina menegaskan bahwa pemenuhan pangan harian warga merupakan tanggung jawab pemerintah, meskipun instrumen pengaturan harga tidak sepenuhnya berada dalam kewenangan pemerintah daerah.
"Harus dicari cara agar masyarakat tetap memperoleh akses pangan dengan harga yang terjangkau," ujarnya.
Dalam paparannya, Agustina menjelaskan bahwa ketahanan pangan kota tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan pokok. Lebih dari itu, menyangkut kemampuan pemerintah daerah menjaga stabilitas harga di tengah keterbatasan kewenangan terhadap mekanisme perdagangan pangan yang berjalan melalui pasar bebas.
Forum Urban Talks JFF 2026 sendiri merupakan agenda yang membahas tantangan utama kawasan perkotaan menuju kota masa depan, termasuk kedaulatan pangan, pengendalian inflasi, dan penguatan daya tahan kota. Partisipasi Agustina di forum nasional itu sekaligus menjadi ajang promosi model intervensi pangan ala Semarang ke kota-kota lain di Indonesia.