KEBUMEN — Gelombang pemasangan baliho bergambar Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi meluas ke Kabupaten Kebumen. Pengurus PAKASA Cabang Kebumen menjadi inisiator di daerah tersebut, menempatkan baliho di sejumlah lokasi yang dianggap strategis.
Ketua PAKASA Cabang Kebumen, K.R.A.P. Arif Priyatoro Rekaningrat, menyatakan bahwa langkah ini merupakan wujud komitmen untuk mendukung pelestarian adat, budaya, dan tradisi Keraton Surakarta. “Karena mereka berinisiatif sendiri. Mereka merasa menjadi bagian dari keluarga besar yang turut berjuang dari berbagai wilayah,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Arif, pemasangan baliho di Kebumen bukanlah yang pertama. Dua daerah lain di Jawa Tengah, yakni Kudus dan Demak, disebut telah lebih dahulu melakukannya secara mandiri. Antusiasme ini, kata dia, muncul dari masyarakat yang merasa terlibat dalam perjalanan panjang menjaga eksistensi adat Keraton Surakarta.
“Mereka merasakan bagaimana proses perjuangan mempertahankan adat dan tradisi budaya sejak awal. Spirit perjuangan itu telah terbangun sejak tahun 2004,” jelas Arif.
Arif mengungkapkan, saat ini sudah ada hampir 60 titik pemasangan baliho Sinuhun PB XIV Hangabehi di berbagai daerah. Sebagian besar dilakukan secara swadaya oleh masyarakat maupun kelompok pendukung, tanpa instruksi terpusat.
Sejumlah daerah lain disebut telah menyatakan kesiapan untuk ikut memasang. Di antaranya Ngawi, Boyolali, Kota Madiun, Grobogan, Sragen, Ponorogo, Pacitan, Nganjuk, Malang Raya, Jepara, Magelang, Trenggalek, Karanganyar, Klaten, hingga Magetan. Arif memperkirakan jumlah titik pemasangan akan terus bertambah dalam waktu dekat.
Arif menjelaskan, dukungan yang terus mengalir tidak lepas dari keterlibatan para abdi dalem dan elemen masyarakat yang selama ini mengikuti perkembangan Keraton Surakarta. Mereka merasakan secara langsung proses panjang perjuangan mempertahankan adat dan tradisi budaya Jawa.
Pemasangan baliho ini, lanjutnya, menjadi simbol bahwa perjuangan tersebut tidak hanya dilakukan di lingkungan keraton, tetapi juga mendapat resonansi dari berbagai wilayah di luar Surakarta. “Mereka merasa menjadi bagian dari elemen yang ikut memperjuangkan dan menjaga kelestarian adat serta tradisi tersebut,” pungkasnya.