BREBES — Ekosistem mangrove di pesisir Brebes yang semula hancur akibat abrasi kini berubah menjadi laboratorium hidup. Tim peneliti dari Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN menemukan bahwa kawasan rehabilitasi di Pandansari, Kaliwlingi, mampu mendukung kehidupan biota bernilai ekonomi tinggi, seperti kepiting bakau.
Temuan ini dipublikasikan di jurnal Heliyon pada 2025 dengan judul Innovative Silvifishery Model in Restored Mangrove Forests: A 10-Year Assessment. Peneliti BRIN, Alin Fithor, menjelaskan bahwa keberhasilan restorasi tidak hanya terlihat dari tumbuhnya kembali vegetasi, tetapi juga dari pulihnya rantai makanan alami.
Penelitian mengkaji hubungan antara kondisi mangrove, gastropoda (siput laut), dan kepiting bakau pada tiga jenis substrat: lumpur, pasir, dan campuran keduanya. Hasilnya, substrat berlumpur memiliki kepadatan gastropoda tertinggi, mencapai 7,20 individu per meter persegi. Angka ini jauh di atas substrat berpasir yang hanya 2,36 individu per meter persegi.
“Gastropoda merupakan salah satu komponen penting dalam rantai makanan di ekosistem mangrove. Ketika populasinya terjaga, maka peluang keberhasilan budidaya kepiting bakau melalui sistem silvofishery juga semakin besar,” ujar Alin dalam keterangan resmi, Jumat (12/6).
Tim menemukan tujuh spesies gastropoda di kawasan tersebut. Dua spesies yang paling dominan adalah Cassidula aurisfelis dan Cassidula nucleus. Keberadaan organisme ini menjadi fondasi bagi pengembangan perikanan berkelanjutan tanpa merusak hutan mangrove.
Data penelitian menunjukkan kondisi perairan di kawasan mangrove Kaliwlingi masih sangat mendukung. Suhu air berkisar 26–29 derajat Celcius, salinitas 25–31 ppt, dan pH 7,6–8,0. Seluruh parameter tersebut berada dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan mangrove, gastropoda, dan kepiting bakau.
“Sistem silvofishery menjadi solusi penting dalam menjaga keseimbangan ekologi sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir. Sistem ini menggabungkan konservasi mangrove dengan budidaya perikanan, khususnya kepiting bakau, tanpa merusak ekosistem utama,” jelas Alin.
Kawasan Pandansari, Kaliwlingi, sebelumnya merupakan tambak udang yang rusak akibat abrasi pantai pada awal tahun 2000-an. Setelah rehabilitasi selama sekitar sepuluh tahun, ekosistem mangrove berhasil pulih dan kembali menjadi habitat penting bagi berbagai biota pesisir.
Alin menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan secara berkelanjutan. Rehabilitasi mangrove di Kaliwlingi terbukti tidak hanya mampu menahan abrasi pantai, tetapi juga memulihkan habitat biota dan membuka peluang ekonomi baru berbasis blue economy.
“Rehabilitasi mangrove tidak hanya berfungsi sebagai upaya perlindungan pantai dari abrasi, tetapi juga dapat menciptakan habitat yang produktif bagi biota bernilai ekonomi serta membuka peluang usaha berkelanjutan bagi masyarakat pesisir,” katanya.
Dengan keberhasilan rehabilitasi selama satu dekade, kawasan mangrove Kaliwlingi dinilai berpotensi menjadi model pengembangan silvofishery nasional. Model ini diharapkan dapat mendukung konservasi pesisir dan ketahanan ekonomi masyarakat di wilayah pantai Indonesia.