Wagub Jateng Taj Yasin Minta Syarikat Islam Hidupkan Lagi Kekuatan Ekonomi Rakyat Ala SI di Era Kolonial

Penulis: Faizal Ramadhan  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 20:28:31 WIB
Wagub Jateng Taj Yasin dorong Syarikat Islam hidupkan kembali ekonomi rakyat ala era kolonial.

SEMARANG — Wagub Taj Yasin menilai kekuatan Syarikat Islam tidak hanya terletak pada dakwah dan pendidikan, tetapi juga pada kemampuannya membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Ia berharap pengurus baru bisa menerjemahkan warisan perjuangan itu ke dalam program-program konkret yang menyentuh pelaku usaha kecil.

“Perjuangan ekonomi ini sangat luar biasa, terutama ekonomi kerakyatan, UMKM, dan usaha menengah. Karena ekonomi kerakyatan inilah yang menopang berdirinya Negara Republik Indonesia dengan kuat,” kata dia dalam sambutannya.

Warisan Syarikat Dagang Islam yang Kini Direbut Kembali

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, lanjut Gus Yasin, para pejuang tidak hanya mengandalkan strategi dan kekuatan fisik. Di belakang mereka, ada masyarakat dan para pelaku usaha yang menyuplai kebutuhan logistik serta menopang roda perjuangan.

“Salah satu kekuatan saat itu adalah Syarikat Dagang Islam. Ini menunjukkan bahwa ekonomi rakyat memiliki peran sangat besar dalam perjalanan bangsa,” ujarnya.

Menurut dia, semangat itu masih sangat relevan. Organisasi seperti SI dinilai memiliki posisi strategis untuk memperkuat usaha kecil, memperluas pemberdayaan ekonomi umat, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ia menegaskan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kami tidak mungkin membangun Jawa Tengah sendirian. Kami membutuhkan organisasi yang dekat dengan masyarakat. Syarikat Islam sudah mengakar sampai daerah-daerah,” katanya.

SI Kembali ke Akar: Dakwah Ekonomi Jadi Prioritas

Senada dengan Wagub, Presiden Pimpinan Pusat Syarikat Islam, Hamdan Zoelva, menegaskan bahwa kebangkitan ekonomi rakyat menjadi fokus utama gerakan SI saat ini. Menurut Hamdan, sejak beberapa tahun terakhir SI telah menetapkan arah perjuangan pada penguatan “dakwah ekonomi”, yaitu menggabungkan nilai-nilai keislaman dengan upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat.

Ia menilai, persoalan terbesar umat saat ini bukan semata-mata soal dakwah, melainkan juga pemerataan ekonomi. Organisasi keagamaan, kata dia, perlu hadir membantu masyarakat memperoleh akses usaha, pelatihan, sertifikasi halal, hingga penguatan ekonomi berbasis komunitas.

“Kita sering berbicara soal persoalan umat, tetapi akar masalahnya sering kali adalah ekonomi. Karena itu Syarikat Islam kembali kepada semangat awalnya, yaitu membangun kekuatan ekonomi rakyat,” ujar Hamdan.

Dari Laweyan 1905 hingga Tantangan Ekonomi Modern

Hamdan mengungkapkan, semangat tersebut sebenarnya telah diwariskan sejak SI berdiri di Laweyan, Surakarta, pada 1905. Saat itu organisasi ini lahir dari solidaritas para pedagang pribumi yang ingin memperkuat posisi ekonomi masyarakat di tengah dominasi kolonial.

Kini, lebih dari satu abad kemudian, semangat yang sama dinilai tetap relevan. Di tengah upaya pemerintah mendorong ekonomi kerakyatan, SI diharapkan kembali menjadi penggerak lahirnya wirausaha baru, memperkuat UMKM, dan memperluas kesejahteraan masyarakat dari akar rumput.

“Kalau dulu Syarikat Islam menjadi motor kebangkitan ekonomi rakyat sebelum kemerdekaan, kini tantangannya adalah bagaimana kembali menjadi penggerak ekonomi umat di era modern,” kata Hamdan.

Reporter: Faizal Ramadhan
Sumber: jatengpos.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top