KENDAL — Sebuah inovasi sederhana namun berdampak langsung pada penurunan angka stunting lahir dari Puskesmas Ringinarum, Kendal. Program bernama KAJEKZI atau Kader Ojek Gizi ini berhasil masuk ke dalam Top 10 IDEA Jawa Tengah 2026, bersaing dengan 142 inovasi lainnya dari berbagai daerah di provinsi tersebut.
Kepala Puskesmas Ringinarum, dr. Ulia Huda, menjelaskan bahwa program ini lahir dari tantangan klasik di lapangan: pemberian makanan tambahan (PMT) sering kali tidak tepat sasaran. Bantuan yang sudah dianggarkan kerap tidak sampai ke balita yang benar-benar membutuhkan karena kendala jarak dan pengawasan.
KAJEKZI menjawab persoalan itu dengan tiga pendekatan sekaligus. Pertama, edukasi gizi kepada orang tua. Kedua, distribusi PMT yang dipastikan langsung diterima oleh sasaran. Ketiga, pendampingan berkelanjutan oleh kader yang memantau perkembangan berat badan dan tinggi badan balita secara berkala.
Kepala BAPPERIDA Kendal, Izzudin Latif, mengatakan bahwa capaian ini menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan anggaran besar. “Di tengah kondisi efisiensi dan keterbatasan anggaran, kita dituntut mampu menghadirkan inovasi melalui kolaborasi. Yang terpenting inovasi tersebut memberikan dampak dan bisa diterapkan lebih luas,” ujarnya.
Ajang IDEA Jawa Tengah 2026 yang digelar Badan Riset Daerah Provinsi Jawa Tengah mengusung tema “Inovasi Menuju Jawa Tengah Berkelanjutan”. Kompetisi ini menjadi ajang replikasi praktik terbaik dari perangkat daerah dan BUMD se-Jawa Tengah.
Dari total 142 inovasi yang masuk, KAJEKZI berhasil masuk ke dalam 10 besar bersama inovasi unggulan dari Blora, Kudus, Wonogiri, dan Kota Semarang. Kendal sendiri mengirimkan enam inovasi, termasuk Job Connect Kendal Karir, Tekad Kita Bisa dari Dinas Kelautan dan Perikanan, Garuda Siap dari Disdukcapil, serta Prenatal Gentle Yoga dari Kecamatan Cepiring.
Masuknya KAJEKZI ke jajaran Top 10 IDEA Jateng 2026 memberikan harapan baru bagi penanganan stunting di tingkat kabupaten. Program ini dinilai tidak hanya inovatif secara konsep, tetapi juga mudah direplikasi di puskesmas lain dengan kondisi geografis serupa.