SEMARANG — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng memastikan pemerintah kota akan menambah frekuensi dan variasi festival seni budaya pada 2027 mendatang. Langkah ini diambil setelah pertunjukan bertajuk Harmoni Semarang mendapat sambutan positif dari masyarakat.
“Kami akan menyusun kalender event yang lebih padat untuk tahun depan. Harmoni Semarang menjadi bukti bahwa warga haus akan tontonan yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mendidik,” ujar Agustina dalam keterangannya, Senin lalu.
Harmoni Semarang bukan sekadar panggung hiburan. Pertunjukan ini dirancang untuk membawa penonton menyusuri perjalanan sejarah Kota Semarang secara tematik. Mulai dari dolanan bocah atau permainan tradisional anak-anak, hingga semangat heroik Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 1945.
Salah satu segmen yang paling menyedot perhatian adalah penggambaran tradisi Dugderan. Tradisi tahunan penanda awal bulan Ramadan ini ditampilkan sebagai simbol persatuan dan kerukunan antarwarga di kota lumpia.
“Kami ingin warga, terutama generasi muda, tidak hanya tahu nama-nama peristiwa sejarah, tapi juga merasakan atmosfernya. Harmoni Semarang adalah mediumnya,” kata Agustina.
Pemkot Semarang tidak berencana menjadikan Harmoni Semarang sebagai acara satu kali. Agustina menyebut format pertunjukan teatrikal-sejarah semacam ini akan diadopsi untuk event-event lain di masa mendatang.
“Bisa jadi ada versi tematik lain, misalnya tentang sejarah Pelabuhan Semarang atau peran kota ini di era kolonial. Semua kami godok bersama budayawan dan sejarawan,” jelasnya.
Penambahan jumlah festival ini juga diharapkan mendongkrak kunjungan wisatawan. Selama ini, Semarang dikenal dengan wisata kuliner dan bangunan lawas di Kota Lama. Dengan adanya pertunjukan seni yang rutin, sisi budaya kota diharapkan ikut naik kelas.
Agustina menargetkan setidaknya ada empat hingga lima festival besar berbasis seni dan budaya sepanjang 2027. Tidak hanya digelar di gedung, beberapa pertunjukan direncanakan berlangsung di ruang publik seperti kawasan Kota Lama dan Taman Indonesia Kaya.
Pemkot juga akan melibatkan lebih banyak komunitas seni lokal. Selama ini, kata Agustina, banyak pegiat seni di Semarang yang karyanya belum tersalurkan ke panggung resmi pemerintah.
“Kami ingin ekosistem seni di Semarang hidup. Bukan sekadar event seremonial, tapi ada ruang kreasi yang berkelanjutan,” pungkasnya.