WONOGIRI — Di tengah hiruk-pikuk Wonogiri, terdapat sebuah sendang yang menyimpan narasi heroik dari masa lampau. Sendang Lanang namanya. Mata air ini, menurut cerita turun-temurun, pernah disinggahi oleh Raden Mas Said, atau yang lebih dikenal dengan gelar Pangeran Sambernyawa, saat ia berjuang melawan penjajahan kolonial.
Seorang sesepuh di wilayah setempat menuturkan, berdasarkan cerita para pendahulu, pemberian nama sendang itu tidak bisa dilepaskan dari sosok Raden Mas Said. "Yang memberi nama sendang itu adalah Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa," ujarnya, mengutip cerita yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Meski tak ada prasasti atau bukti fisik yang kuat, kepercayaan masyarakat setempat terhadap narasi ini tetap kokoh. Sendang Lanang bukan hanya dianggap sebagai sumber air, melainkan juga sebagai saksi bisu perjuangan sang pangeran yang dikenal gigih melawan VOC.
Keberadaan Sendang Lanang kini menjadi salah satu aset budaya yang dijaga warga. Airnya yang jernih masih dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, namun nilai historisnya yang membuat tempat ini istimewa.
Bagi warga sekitar, sendang ini adalah pengingat bahwa perjuangan melawan kolonialisme pernah melewati kampung mereka. Kisah Raden Mas Said yang singgah di tempat ini menjadi bagian dari memori kolektif yang terus dilestarikan.
Selain cerita heroiknya, Sendang Lanang juga memiliki keunikan dari segi nama. Kata "lanang" dalam bahasa Jawa berarti laki-laki. Belum ada penjelasan pasti mengapa sendang ini dinamai demikian, namun warga menduga ada kaitannya dengan sosok Raden Mas Said yang seorang pria.
Yang jelas, sendang ini menjadi salah satu bukti bahwa jejak sejarah di Jawa Tengah tidak melulu berada di candi atau keraton, tetapi juga tersebar di sudut-sudut desa, seperti di Wonogiri ini.