CILACAP — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar seremoni. Setiap hektare lahan yang berhasil ditanami, menurutnya, menjadi kekuatan baru menuju kemandirian pangan nasional di tengah tekanan perubahan iklim.
"Gerakan tanam serempak ini bukan sekadar seremoni, tetapi langkah nyata mempercepat produksi pangan. Seluruh potensi lahan harus dimanfaatkan secara optimal agar target swasembada pangan segera tercapai," ujar Mentan Amran dalam keterangan resmi yang diterima redaksi.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak semata-mata bergantung pada infrastruktur, benih, atau alat mesin pertanian. Menurutnya, penyuluh pertanian dan Brigade Pangan adalah ujung tombak yang harus bergerak cepat dan inovatif di lapangan.
"Penyuluh pertanian dan Brigade Pangan harus menjadi agen perubahan yang inovatif, mampu memberikan solusi di lapangan, bergerak cepat, dan tidak menyerah menghadapi berbagai tantangan," tegas Arsanti dalam dialog nasional yang digelar secara daring.
Arsanti juga meminta seluruh daerah memanfaatkan sisa ketersediaan air sebelum memasuki periode kering pada Agustus hingga September. Ia memastikan benih tersedia, lahan siap tanam, jaringan irigasi berfungsi, dan pendampingan penyuluh berjalan optimal hingga panen.
Di Kalimantan Selatan, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang mengikuti kegiatan secara daring dari Desa Pabahanan, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut. Kepala BBPP Binuang, Andi Amal Hayat Makmur, melaporkan bahwa gerakan serupa telah berlangsung di sekitar 10 kabupaten se-Kalimantan Selatan.
Khusus di Desa Pabahanan, tanam serempak dilakukan pada lahan sekitar 50 hektare, melibatkan penyuluh, Brigade Pangan, pemerintah daerah, dan petani. Andi menyebut kontribusi Kalimantan Selatan berasal dari luasan Oplah 2024, Oplah 2025, serta Cetak Sawah Rakyat 2025 yang tersebar di berbagai kabupaten.
Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, Brigade Pangan, TNI–Polri, dunia usaha, hingga petani menjadi kekuatan utama dalam mendukung target swasembada pangan yang berkelanjutan. Kegiatan di Cilacap sendiri dihadiri jajaran UPT lingkup Kementerian Pertanian, Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia, dan kelompok tani setempat.
Melalui momentum ini, BBPP Binuang menegaskan komitmennya memperkuat kapasitas SDM pertanian, meningkatkan kompetensi penyuluh, serta mempererat kolaborasi dengan pemerintah daerah. Target akhirnya: memperluas areal tanam, meningkatkan produktivitas, dan mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional.