SEMARANG — Jejak sejarah Laksamana Cheng Ho kembali menjadi penghubung antara Jawa Tengah dengan dunia internasional. Pemprov Jateng menggandeng International Zheng He Society dari Singapura untuk memperkuat kerja sama budaya dan membuka peluang investasi dan perdagangan yang lebih luas.
Presiden International Zheng He Society, Dr Zhang Lu, mengatakan bahwa promosi budaya tidak cukup hanya mengandalkan destinasi wisata. Setiap daerah, menurutnya, perlu memiliki narasi sejarah yang kuat untuk menarik wisatawan, investor, dan pelaku industri kreatif.
“Kami banyak bergerak di bidang budaya, artificial intelligence (AI), dan teknologi baru untuk mempromosikan kebudayaan,” kata Zhang saat bertemu Gubernur Ahmad Luthfi di Semarang, kemarin.
Zhang menambahkan, kerja sama ini tidak hanya terbatas pada pariwisata. Ia berharap Semarang bisa menarik lebih banyak investor, kru film, hingga pelaku perdagangan internasional.
“Semoga ke depan bisa terhubung dengan Semarang, tidak hanya untuk pariwisata, tetapi juga menarik lebih banyak investor, kru film, perdagangan, dan kolaborasi lainnya,” jelasnya.
Gubernur Ahmad Luthfi menambahkan, kerja sama ini memanfaatkan kedekatan sejarah antara Jawa Tengah dan Laksamana Zheng He atau Cheng Ho. Ia menyebut, sejumlah pengusaha yang diajak oleh International Zheng He Society sudah berinvestasi di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).
“Bahkan beberapa pengusaha yang diajak oleh beliau juga sudah berinvestasi di KITB Batang,” ucap Luthfi.
Menurut Luthfi, Singapura menjadi salah satu sumber penanaman modal asing (PMA) terbesar di Jawa Tengah. Persentase PMA di Jateng mencapai 48 persen.
Pada 2025, nilai ekspor Jawa Tengah ke Singapura mencapai US$114,96 juta. Produk yang paling banyak diminati antara lain tembakau, produk kayu, dan tekstil.