JEPARA — Kendala klasik seperti kemasan kurang menarik, legalitas usaha yang belum lengkap, hingga ketidakmampuan memproduksi dalam jumlah besar secara konsisten membuat produk makanan khas Jepara jarang terlihat di rak minimarket atau supermarket. Kondisi ini mendorong Dekranasda Jepara untuk turun tangan secara langsung.
Dalam pelatihan yang digelar di Aula Galeri Dekranasda Jepara itu, peserta tidak hanya diajari teori. Mereka menjalani simulasi kurasi yang menilai aspek kualitas produk, cita rasa, keamanan pangan, desain kemasan, dan legalitas usaha. Produk yang lolos tahap ini akan langsung direkomendasikan untuk mengisi rak-rak ritel modern.
"Jangan merasa kecil hanya karena usaha masih rumahan. Banyak produk lokal yang kini mampu bersaing di pasar nasional, asal mau berinovasi," ujar Ketua Dekranasda Jepara, Laila Witiarso Utomo, di hadapan ratusan peserta.
Sejumlah produk ikonik Jepara seperti krupuk tengiri, kacang oven, kripik ikan wader, dan kopi papasan menjadi andalan dalam pelatihan tersebut. Selama ini, jajanan khas itu lebih banyak beredar di pasar tradisional atau sebagai oleh-oleh wisata, bukan di jaringan ritel modern yang memiliki standar ketat.
Laila menambahkan, program ini merupakan langkah strategis agar produk lokal tidak berhenti berkembang hanya karena persoalan administratif. "Pelajari kiat tentang membangun citra produk, strategi pemasaran, serta persyaratan agar produk dapat diterima di toko modern," pintanya.
Setelah pelatihan ini, Dekranasda Jepara berkomitmen untuk terus mendampingi pelaku UMKM. Laila berharap tidak ada lagi produk yang berhenti berkembang hanya karena persoalan kemasan, label, atau legalitas. "Kita ingin semakin banyak produk makanan khas Jepara yang tidak hanya dikenal di daerah sendiri, tetapi mampu mengisi rak-rak toko modern," pungkasnya.