SEMARANG — Panen raya udang vaname di tengah kawasan industri bukan sekadar proyek percontohan. Pemprov Jateng telah membuktikan bahwa sistem budidaya modern mampu menghasilkan produktivitas tinggi di lahan yang tidak terlalu luas.
Kompleks tambak seluas 1.561 meter persegi itu menghasilkan 1,3 ton udang vaname dengan kualitas premium. Angka ini menjadi bukti awal bahwa revitalisasi tambak tradisional menjadi tambak modern bisa berjalan efektif.
Sepanjang Pantura Jawa Tengah, ribuan hektare tambak tradisional menghadapi tantangan produktivitas dan serangan penyakit. Sistem modern yang diterapkan Pemprov Jateng menggunakan teknologi bioflok dan manajemen kualitas air yang ketat.
Dengan sistem ini, risiko gagal panen akibat perubahan cuaca atau serangan bakteri bisa ditekan. Padat tebar lebih tinggi, namun tetap menjaga kualitas air dan kesehatan udang.
Keberhasilan di Kawasan Industri Semarang ini akan menjadi cetak biru. Pemprov Jateng berencana mendorong petambak di Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Kendal, hingga Batang untuk mengadopsi teknologi serupa.
Program revitalisasi tambak modern ini tidak hanya menyasar produktivitas. Pemerintah juga ingin memastikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan petambak kecil.
Dengan sistem modern, biaya pakan bisa lebih efisien karena pemberian pakan dihitung berdasarkan kebutuhan harian udang. Sirkulasi air yang terjaga juga mengurangi frekuensi penggantian air, sehingga lebih ramah lingkungan.
Pemprov Jateng menargetkan produksi udang vaname di Pantura bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat dalam tiga tahun ke depan jika program revitalisasi berjalan sesuai rencana.
Keberhasilan panen perdana ini menjadi sinyal positif bagi industri perikanan budidaya di Jawa Tengah. Kawasan industri pun kini tak hanya identik dengan pabrik, tetapi juga bisa menjadi lokasi produksi pangan berkualitas tinggi.