MAGELANG — Bukan sekadar lari pagi di kaki candi, Rupiah Borobudur Playon (RBP) 2026 dirancang sebagai mesin ekonomi dan sosial. Dari tiket peserta saja, Bank Indonesia mengumpulkan dana Rp633,365 juta yang seluruhnya akan disalurkan untuk pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah desa di Kecamatan Borobudur.
Semangat "Lari untuk Berbagi" menjadi fondasi kegiatan ini. Penerimaan dari pendaftaran peserta tidak masuk kas negara, melainkan dikembalikan ke warga sekitar kawasan candi.
“Kami juga menghadirkan Program Wakaf Digital yang memudahkan masyarakat berwakaf secara nontunai untuk sosial dan pemberdayaan,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jateng M Noor Nugroho.
Penyelenggara memperkirakan RBP 2026 akan menarik lebih dari 10.000 pengunjung ke kawasan Borobudur. Angka ini bukan sekadar estimasi—berdasarkan kajian dampak ekonomi RBP 2025, event serupa menghasilkan perputaran ekonomi di atas Rp10 miliar.
Aliran uang menyebar ke sektor akomodasi, kuliner, perdagangan, transportasi, hingga jasa lainnya. Pemprov Jateng dan BI berharap efek berganda ini bisa terus berulang setiap tahun.
Selain lomba lari, RBP 2026 menghadirkan Expo UMKM yang diikuti 54 tenant binaan BI dan pemerintah kabupaten. Produk yang dipamerkan meliputi kuliner, fesyen, kriya, hingga perlengkapan olahraga.
Kehadiran expo ini menjadi jembatan bagi pelaku UMKM untuk memperluas akses pasar dan memperkenalkan produk unggulan Jawa Tengah ke wisatawan domestik maupun mancanegara. Jumlah tenant tahun ini meningkat dibanding edisi sebelumnya.
RBP 2026 tidak melulu soal lari dan jualan. Bank Indonesia menyelipkan edukasi kebanksentralan, kampanye Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah, perlindungan konsumen, serta sosialisasi pengendalian inflasi.
Di sela kegiatan, BI juga menandatangani Nota Kesepakatan Peningkatan Literasi Rupiah bersama tujuh pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah. Langkah ini memperluas jangkauan edukasi keuangan hingga ke desa-desa penyangga Borobudur.
Pengunjung juga bisa mencoba aplikasi Jasirah yang mendukung pariwisata digital di kawasan candi. Ada pula library in motion dari perpustakaan BI Jateng dan cheering point di sepanjang rute lari yang menyemarakkan suasana.
Gubernur dan Sekretaris Daerah Provinsi Jateng ikut ambil bagian dalam lomba lari, menunjukkan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap pengembangan sport tourism berbasis budaya lokal.
Melalui RBP 2026, Bank Indonesia memanfaatkan olahraga sebagai media komunikasi kebijakan yang lebih dekat dengan masyarakat. Pendekatan ini dianggap lebih efektif ketimbang sosialisasi formal di ruang rapat.
“Kami berharap RBP terus berkembang sebagai agenda unggulan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian daerah,” ujar Noor. Dengan sinergi antara BI, pemda, dan pemangku kepentingan, ajang ini diyakini mampu mendorong budaya hidup sehat sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal secara berkelanjutan.