JAWA TENGAH — Laba operasional Samsung pada kuartal terakhir meroket menjadi sekitar 10,4 triliun won (sekitar Rp 120 triliun), dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 0,67 triliun won. Kenaikan ini didorong oleh permintaan kuat terhadap chip memori berkinerja tinggi, terutama HBM (High Bandwidth Memory) yang menjadi tulang punggung infrastruktur AI.
Ekspektasi pasar terhadap saham-saham semikonduktor sudah sangat tinggi sejak awal tahun. Saham Samsung sendiri telah naik lebih dari 20% year-to-date, mencerminkan optimisme berlebih yang membuat ruang untuk kenaikan lebih lanjut menjadi sempit.
“Angka ini memang impresif secara absolut, tapi sudah diantisipasi oleh para analis dan investor institusi. Kuncinya sekarang bukan lagi seberapa besar laba naik, tapi apakah Samsung bisa mempertahankan momentum ini di tengah persaingan SK Hynix dan Micron,” ujar seorang analis di Seoul.
Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan Samsung di segmen HBM. SK Hynix, pesaing utama asal Korea Selatan, telah lebih dulu menguasai pasar HBM3E generasi terbaru dan menjalin kemitraan erat dengan Nvidia. Samsung masih tertinggal dalam proses sertifikasi untuk pemasok utama AI tersebut.
Selain itu, kekhawatiran mulai muncul bahwa lonjakan belanja modal untuk pusat data AI oleh raksasa teknologi AS seperti Microsoft, Amazon, dan Google bisa melambat pada paruh kedua tahun ini. Jika permintaan chip AI mereda, Samsung akan menjadi yang paling rentan karena ketergantungannya pada segmen memori.
Pergerakan saham Samsung menjadi indikator penting bagi investor global yang memiliki eksposur ke sektor teknologi melalui reksa dana saham luar negeri atau ETF. Koreksi harga saham pasca-laporan laba ini bisa menjadi sinyal bahwa fase “easy money” di saham semikonduktor mungkin sudah berakhir.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, sentimen ini patut dicermati karena pergerakan saham teknologi global kerap memengaruhi arus modal asing ke bursa emerging market, termasuk IHSG. Jika terjadi aksi ambil untung besar-besaran di saham teknologi Korea, dana asing bisa kembali mencari alternatif di pasar Asia lainnya.
Investasi mengandung risiko.