SEMARANG — Sebanyak 15 santri Jawa Tengah sudah dipastikan menerima beasiswa kuliah tingkat sarjana di kampus luar negeri tahun 2026. Mereka tersebar di China (3 orang bidang sainstek), Al-Azhar Mesir (1 orang kedokteran dan 7 orang bidang keislaman), Al Ahqof Yaman (3 orang), dan satu santri program double degree. Pengumuman untuk penerima luar negeri sudah dirilis pada 6 Juli 2026.
Sementara itu, untuk beasiswa dalam negeri, proses seleksi memasuki babak akhir. Sebanyak 702 santri dan 240 pengasuh pesantren telah mendaftar, dan kini mereka menjalani wawancara pada 25-26 Juli 2026 di kompleks Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDMP) Jateng. Hasilnya akan diumumkan pada 3 Agustus 2026 melalui laman www.jatengprov.go.id dan aplikasi JNN (Jateng Ngopeni Nglakoni).
Ketua Panitia Seleksi Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren Pemprov Jateng Wahid Abdulrahman menjelaskan empat komponen penilaian wawancara. Kemampuan membaca kitab kuning menjadi yang terberat dengan bobot 50 persen, disusul hafalan Al-Quran (20 persen), wawasan kebangsaan (15 persen), dan kepesantrenan (15 persen). "Untuk kampusnya, pilihannya bebas, bisa negeri atau swasta, yang penting kampus di Jawa Tengah yang sudah MoU dengan Pemprov Jateng. Atau kampus luar negeri yang juga sudah kerjasama," ujarnya.
Program beasiswa ini mencakup lima skema: Santri Vokasi dan S1 dalam negeri, Santri Vokasi dan S1 luar negeri, Program Studi S1 luar negeri (double degree), Program Studi S1 luar negeri bidang keislaman di Al Azhar Mesir, Al Ahqof dan Imam Syafi’i Yaman, serta beasiswa pengasuh pesantren untuk program S2 dan S3 dalam negeri.
Ketua LFSP Jateng Hasyim Muhammad menegaskan bahwa program ini adalah bentuk kepedulian Pemprov terhadap pesantren. "Di luar sana banyak beasiswa, tetapi kemungkinan santri salaf sulit untuk bisa masuk, karena itu pemprov secara spesial memberi kesempatan emas ini," katanya di Semarang, Minggu. LFSP dibentuk pada November 2025 dan langsung ditugaskan menjalankan seleksi. Program ini sudah disosialisasikan secara daring dan luring sejak setahun lalu, dan akan dibuka kembali di tahun-tahun mendatang.
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin sebelumnya menyatakan panitia melakukan seleksi ketat dengan melibatkan perwakilan ulama, pengelola pondok pesantren, hingga akademisi. Hal ini untuk memastikan kualitas penerima beasiswa sesuai standar yang diharapkan.