Kabar ini pertama kali diungkap oleh The Information yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui rencana tersebut. Mesin DUV, meskipun lebih lawas dibandingkan teknologi EUV (Extreme Ultraviolet), masih menjadi tulang punggung produksi chip modern. Dengan teknik multi-patterning, mesin DUV mampu memproduksi chip setara proses 7nm, selevel dengan prosesor Ryzen 5000-series buatan AMD.
Selama ini, produksi mesin lithography dikuasai oleh segelintir perusahaan, terutama ASML asal Belanda. Pemerintah AS, sejak 2019, sudah memblokir penjualan mesin EUV ke China. Kini, tekanan semakin meningkat. Baru-baru ini, Kongres AS mengusulkan rencana untuk membatasi penjualan dan servis mesin DUV ke China. Jika berhasil, China akan terisolasi total dari teknologi pembuatan chip modern.
Produksi mandiri mesin DUV menjadi satu-satunya jalan keluar. Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa mesin buatan China ini masih tertinggal dalam hal performa dan keandalan. "Bekerja" dan "produktif dengan hasil tinggi" adalah dua hal yang berbeda. Mencapai yield atau jumlah chip yang berfungsi baik dalam satu wafer adalah tantangan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk disempurnakan.
Kabar ini langsung mengguncang pasar modal. Saham ASML tercatat ambles 12 persen sejak 27 Juli lalu, saat berita mulai beredar. ASML sendiri sebelumnya memperkirakan akan mengirimkan sekitar 130 unit mesin DUV immersion pada tahun ini—jumlah yang sama dengan target 2025. CFO ASML, Roger Dassen, mengonfirmasi angka tersebut dalam sebuah pernyataan pada Juli lalu, seraya menambahkan bahwa pihaknya tengah bekerja sama dengan mitra rantai pasok untuk meningkatkan kapasitas produksi pada 2027.
Namun, guncangan ini bukan semata-mata soal kehilangan pangsa pasar. Hubungan ASML dengan China sudah rumit. Pemerintah Belanda, di bawah tekanan AS, telah menerapkan kontrol ekspor pada mesin DUV yang dijual ke China. Ini karena sebagian besar teknologi di dalam mesin ASML mengandung komponen asal Amerika Serikat.
China sudah lama berambisi memutus ketergantungan pada rantai pasok asing. Blokade teknologi justru menjadi katalis terkuat. Perusahaan pelat merah seperti SMIC dan CXMT menjadi pelanggan pertama yang siap menerima mesin buatan lokal ini. CXMT, yang belakangan ini menjadi sorotan karena lonjakan harga memori, akan menjadi salah satu penguji utama kemampuan mesin tersebut.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah China bisa membuat mesin DUV, melainkan seberapa baik mesin itu bekerja. Para analis yang berbicara kepada CNBC menilai mesin ini belum akan mengguncang peta persaingan dalam waktu dekat. Skala ekonomi dan keandalan untuk chip paling modern masih menjadi pekerjaan rumah besar. Tapi satu hal yang pasti: sejarah menunjukkan bahwa ketika China bertekad mengejar ketertinggalan, mereka jarang berhenti di tengah jalan.