BLORA — Rencana penyaluran ribuan eksemplar buku ke 30 titik perpustakaan di Kabupaten Blora tahun depan masih menggantung. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blora, Mohamad Toha Mustofa, mengaku belum mendapat kepastian dari Perpusnas terkait kelanjutan program hibah tersebut.
30 Titik Perpustakaan Terancam, dari Desa hingga Puskesmas
Sebanyak 30 titik yang telah diusulkan meliputi perpustakaan desa, perpustakaan tempat ibadah, perpustakaan puskesmas, hingga pojok baca masyarakat. Setiap lokasi biasanya mendapat jatah sekitar 1.000 eksemplar buku.
“Pada tahun 2024 kami mengajukan 25 titik dan seluruhnya disetujui. Tahun 2025 kami kembali mengajukan 30 titik dan juga disetujui. Namun untuk tahun 2026 sampai sekarang belum ada kepastian dari Perpusnas,” ujar Toha.
Pemangkasan Anggaran Pusat Jadi Biang Kerok
Toha menduga ketidakpastian ini berkaitan dengan pemangkasan anggaran Perpusnas. Dampaknya tidak hanya pada pengiriman buku, tetapi juga program renovasi dan pembangunan sarana perpustakaan di daerah.
Padahal, menurut Toha, banyak perpustakaan desa di Blora yang sudah memenuhi persyaratan administrasi. Mereka telah memiliki tempat, pengelola, komitmen pengurus, serta koleksi buku awal.
Sedekah Buku Jadi Jurus Darurat
Menghadapi situasi ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blora tidak tinggal diam. Mereka menggencarkan program Sedekah Buku yang diluncurkan pada 2 Mei lalu, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.
“Masih banyak lembaga pendidikan, terutama taman kanak-kanak, yang membutuhkan buku dongeng dan bacaan anak untuk mendukung proses pembelajaran,” pungkas Toha.
Program ini mengajak masyarakat untuk menyumbangkan buku layak baca ke taman baca maupun pojok baca di berbagai wilayah Blora. Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga budaya literasi di tengah ketidakpastian bantuan dari pusat.