Review Headphone Anak Peredam Bising: Batas Volume 85dB Bukan Sekadar Klaim, Ini Kata Audiolog

Penulis: Irfan Hakim  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 09:51:01 WIB
Seorang anak menggunakan headphone peredam bising di ruang keluarga.

JAWA TENGAH — Musim liburan sekolah memang hampir usai, tapi justru di sinilah penggunaan headphone anak-anak biasanya meningkat drastis. Entah untuk menemani perjalanan ke sekolah, mengerjakan tugas, atau sekadar menonton video di rumah. Masalahnya, banyak orang tua yang masih menyerahkan headphone bekas pakai mereka atau membeli produk murah di toko terdekat tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjangnya.

Faktanya, headphone tanpa pengatur volume bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan telinga anak. Studi University of Michigan tahun 2024 menemukan bahwa lebih dari separuh anak usia 5-12 tahun sudah memiliki perangkat audio pribadi dan menggunakannya minimal satu jam per hari. Angka ini sejalan dengan kekhawatiran para ahli bahwa gangguan pendengaran akibat kebisingan (noise-induced hearing loss) semakin banyak ditemui pada usia muda.

Ambang Batas 85dB: Patokan yang Sering Diabaikan

Baik OSHA (Occupational Safety and Health Administration) maupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sepakat bahwa 85 desibel adalah tingkat kebisingan aman untuk lingkungan industri selama delapan jam. Namun, American Academy of Audiology menegaskan bahwa paparan di atas angka itu—berapa pun durasinya—berpotensi menyebabkan kerusakan permanen.

Untuk konteks, 80dB setara dengan suara alarm jam weker. Sementara itu, konser musik, alat-alat pertukangan, dan earbuds di volume maksimal bisa mencapai 90 hingga 110dB. Kaitlyn Kennedy, audiolog dan anggota American Academy of Audiology, menjelaskan bahwa rekomendasi untuk anak-anak justru lebih ketat: 75dB untuk anak-anak dan 80dB untuk orang dewasa.

"Kita hanya diberi satu pasang telinga. Ketika gangguan pendengaran mulai terjadi—baik karena faktor genetik atau paparan kebisingan—kondisinya akan memburuk seiring waktu. Ini seperti bola salju; satu kali paparan mungkin tidak langsung terasa, tapi akumulasinya akan berbahaya," ujar Kennedy kepada Tom's Guide.

Ia menambahkan bahwa meskipun teknologi alat bantu dengar terus berkembang, tidak ada yang bisa menggantikan pendengaran alami. Kerusakan yang terjadi pada anak-anak bisa lebih parah karena suara terasa lebih keras di telinga yang masih dalam masa pertumbuhan.

Teknologi Volume Limiter: Solusi dari Produsen

Kabar baiknya, produsen headphone kini berlomba menghadirkan fitur pembatas volume. Sebagian besar headphone ramah anak yang diuji Tom's Guide memiliki batas bawaan sekitar 85dB. iClever, misalnya, membatasi volume di 80dB untuk banyak produknya berdasarkan standar EN50332-1 Uni Eropa dan rekomendasi WHO.

Teknologi "SafeSound" dari iClever menggabungkan active noise canceling (ANC) dengan volume maksimum. Logikanya sederhana: jika peredam bising bekerja baik, anak tidak perlu menaikkan volume untuk menutupi suara bising di sekitarnya. Model Q950 mereka bahkan disebut sebagai headphone anak dengan kualitas suara terbaik yang pernah diuji tim Tom's Guide, meskipun performa ANC-nya kurang impresif dan baterainya cepat habis meski dipakai dalam mode kabel.

Puro Sound Labs mengambil pendekatan berbeda. Seluruh lini produknya—termasuk untuk dewasa—dibatasi maksimal 95dB, sementara untuk anak-anak dikunci di angka 85dB. Keputusan ini lahir dari pengalaman pahit sang pendiri, Dave Russell, yang anaknya mengalami gangguan pendengaran akibat penggunaan headphone secara terus-menerus. Davis Camarigg, VP Sales Puro Sound Labs, mengungkapkan bahwa satu dari lima remaja berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat headphone.

Yang menarik, Puro tidak sekadar membatasi volume lalu mengorbankan kualitas audio. Mereka memastikan suara tetap jernih dan detail di bawah batas aman. Dengan harga sekitar USD 99 (sekitar Rp 1,6 juta), headphone ini juga dirancang kokoh untuk menahan bantingan anak-anak yang tidak hati-hati.

Tips Praktis dari Audiolog: Aturan 60/60

Selain memilih perangkat yang tepat, Kennedy menekankan pentingnya kebiasaan mendengarkan yang sehat. Ia merekomendasikan aturan sederhana: volume maksimal 60 persen dan durasi tidak lebih dari 60 menit, kemudian istirahat sejenak sebelum melanjutkan.

"Kalau suaranya terlalu keras sampai orang di sebelahmu tidak bisa mendengar suaramu, berarti volumenya sudah terlalu tinggi," tambahnya.

Manfaatkan Fitur Bawaan Smartphone

Orang tua juga bisa memanfaatkan pengaturan bawaan di smartphone anak. Di iPhone, buka Settings > Sound & Haptics > Headphone Safety, lalu aktifkan Reduce Loud Sounds. Sementara pengguna Android bisa menggunakan fitur "Volume monitor" di bawah menu Digital Wellbeing untuk memantau durasi dan tingkat volume, atau mengaktifkan media volume limit yang bisa dikunci antara 85dB hingga 100dB.

Melindungi pendengaran anak memang butuh usaha ekstra, tapi bukan berarti rumit. Kombinasi perangkat dengan volume limiter, pengaturan di ponsel, dan edukasi tentang kebiasaan mendengarkan yang sehat adalah langkah paling efektif yang bisa dilakukan orang tua sekarang.

Reporter: Irfan Hakim
Sumber: tomsguide.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top