PURWOKERTO — Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banyumas tidak hanya mengandalkan personel, tetapi juga membangun rantai koordinasi lintas instansi untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang musim kemarau tahun ini. Seluruh peralatan pendukung penanganan karhutla juga telah diperiksa dan dipastikan siap digunakan di lapangan.
Kapolresta Banyumas Komisaris Besar Polisi Petrus P Silalahi menegaskan bahwa fenomena El Nino membuat kondisi cuaca lebih kering dari biasanya, sehingga potensi kebakaran lahan meningkat signifikan. "Kami membentuk pasukan Siaga Bhayangkara dan telah melakukan apel bersama serta pemeriksaan peralatan yang mendukung," katanya di Purwokerto, Rabu.
Polresta Banyumas telah menggelar rapat koordinasi bersama Perum Perhutani, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, serta pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya menyatukan pola penanganan agar api tidak meluas, terutama karena sejumlah kejadian kebakaran lahan sebelumnya terjadi di kawasan milik Perhutani.
"Kita sinergi bersama terkait dengan antisipasi akibat cuaca ekstrem kemarau yang panjang ini, yaitu kebakaran hutan dan lahan," ujar Kombes Petrus.
Dalam penanganan awal, personel gabungan akan melakukan penyekatan dan kanalisasi agar api tidak merambat ke area yang lebih luas. Petugas kepolisian akan bekerja sama dengan TNI, Perhutani, BPBD, dan masyarakat menggunakan peralatan manual yang tersedia di lokasi kejadian.
Menurut Kombes Petrus, kolaborasi lintas instansi menjadi faktor kunci dalam mempercepat pengendalian kebakaran sekaligus meminimalkan dampak terhadap kawasan hutan dan lingkungan sekitar. "Kesiapsiagaan anggota kami yang bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan," tegasnya.
Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar saat kondisi cuaca sangat kering. Partisipasi warga dinilai sangat dibutuhkan untuk mencegah karhutla sejak dini melalui pelaporan cepat apabila ditemukan titik api.