SALATIGA — Festival Tani Muda 2026 yang digelar di Salatiga pada 7–10 Agustus 2026 mengangkat sejumlah persoalan pertanian yang kian kompleks. Mulai dari krisis regenerasi sumber daya manusia (SDM) pertanian, konflik agraria, ketimpangan penguasaan lahan, perubahan iklim, hingga melemahnya budaya agraris di pedesaan.
Koordinator acara, Eric Darmawan, menyebut usia rata-rata petani saat ini terus menua. Sementara minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian kian menurun dibandingkan pekerjaan lain yang dinilai lebih cepat menghasilkan uang.
"Usia rata-rata petani kini terus menua. Di sisi lain, minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian kian menurun dibandingkan pekerjaan serta sektor usaha lain yang tidak harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkan uang," jelasnya di Salatiga, Senin, 10 Agustus 2026.
Kondisi itu diperparah oleh konflik agraria, ketimpangan penguasaan tanah, serta alih fungsi lahan pertanian yang masif. Dampak perubahan iklim turut memperlemah budaya bertani dan mendorong urbanisasi sebagai pilihan masyarakat meninggalkan tanah kelahirannya.
Di tengah berbagai tantangan itu, sejumlah petani muda, perempuan tani, nelayan muda, dan pemuda desa di Jawa Tengah masih berinisiatif mencari solusi. Mereka bergerak mengembangkan pertanian organik, membangun koperasi desa, dan melestarikan benih lokal.
"Mereka merupakan para pemuda yang telah bergerak mengembangkan pertanian organik, membangun koperasi desa, dan melestarikan benih lokal. Bahkan hingga menghidupkan kembali praktik pertanian yang adaptif terhadap dampak perubahan iklim," kata Eric.
Festival ini mengusung lima misi utama: regenerasi petani, penguatan ekonomi rakyat, pelestarian kebudayaan agraria, kampanye politik agraria, dan penguatan organisasi tani muda. Harapannya, festival ini menumbuhkan semangat kader muda tani sekaligus memperluas pasar produk petani dan UMKM desa.
Festival juga menjadi ruang kampanye Reforma Agraria Sejati serta membangun jejaring Tani Muda se-Jawa Tengah yang lebih solid. "Sehingga budaya agraris bisa terus bertahan," tegas Eric.
Festival Tani Muda 2026 diisi berbagai agenda, mulai dari diskusi, workshop, pelatihan, hingga talkshow bersama praktisi dan akademisi pertanian. Ada pula pameran perjuangan agraria dan benih lokal serta bazar Pasar Tani Rakyat yang mempertemukan produsen dengan konsumen.
Konsep acara dirancang multi-zona, meliputi Kampung Reforma Agraria sebagai zona edukasi, Pasar Tani Rakyat sebagai ruang ekonomi rakyat, Dapur Umum Rakyat yang menyajikan kuliner berbasis pangan lokal, serta Panggung Budaya Agraria.
Panggung Budaya Agraria menampilkan musik, tari, teater, dan berbagai ekspresi kesenian rakyat setiap malam. Sejumlah pengisi acara antara lain Sastra Sastro, Lima Sore, DJ Gennaro, YNTHN, Srikandi Entertai, Rewocakso, dan Berbagi Cerita. Kemudian Sanggar Bima, Faisal Abdi Illahi, Brahmastra, Tungtang Ansamble, Atiek, Daun Hijau, Bonita & Addoy, Swarnarengga, serta De Wowo.