Tiga Pakar AI Dunia Bela Model Open-Source di Tengah Ketakutan Regulasi

Penulis: Joko Purnomo  •  Kamis, 13 Agustus 2026 | 01:11:01 WIB
Tiga pakar AI dunia, Geoffrey Hinton, Fei-Fei Li, dan Andrew Ng, menyampaikan pandangan mereka tentang masa depan kecerdasan buatan di konferensi Ai4 di Las Vegas.

JAWA TENGAH — Perdebatan soal keamanan dan kontrol kecerdasan buatan (AI) memanas di konferensi Ai4, Las Vegas, pekan lalu. Tiga nama paling berpengaruh di dunia AI justru tampil dengan satu pesan: jangan biarkan segelintir raksasa teknologi menjadi penjaga gerbang inovasi.

Nobel Prize winner Geoffrey Hinton, CEO World Labs Fei-Fei Li, dan co-founder Coursera Andrew Ng sama-sama memiliki kekhawatiran jika akses AI dibatasi. Menurut mereka, hal itu bisa mengulang pola buruk industri mobile, di mana Apple dan Google mengontrol penuh ekosistem aplikasi dan memperlambat inovasi.

Ancaman "Gatekeeper" AI dan Kekhawatiran Andrew Ng

Andrew Ng paling vokal soal bahaya monopoli. Ia menegaskan AI seharusnya bisa diakses semua orang, bukan hanya perusahaan dengan modal raksasa.

"Saya tidak ingin ada penjaga gerbang. Itu membatasi cara kita semua mengakses AI," ujar Ng di hadapan peserta konferensi.

Menurut Ng, solusinya adalah mendorong kompetisi antar penyedia model AI. Ia menilai jika hanya segelintir pemain yang dominan, mereka akan cenderung melobi regulasi demi melindungi keunggulan bisnis mereka, bukan demi kepentingan publik.

"Kalau saya harus memberi satu resep, itu adalah mempromosikan keterbukaan. AI adalah teknologi yang luar biasa dan saya ingin teknologi ini ada di tangan semua orang," tegasnya.

Hinton: Open-Weight Berbeda dengan Open Source

Geoffrey Hinton, yang kerap disebut "Godfather of AI", memberikan pandangan lebih bernuansa. Ia dengan tegas membedakan antara open source (kode program terbuka) dan open-weight (bobot model terbuka).

"Open source itu bagus. Anda menunjukkan kodenya, banyak orang melihat baris-baris kode dan berkata, 'Oh, ada bug.' Open-weight artinya Anda melatih model besar lalu memberikan bobotnya ke publik. Itu sangat berbeda," jelas Hinton.

Hinton mengaku sebelumnya menentang model open-weight karena khawatir disalahgunakan untuk serangan siber. Namun ia mengakui pertarungan itu sudah kalah. "Saya pikir pertarungan itu sudah hilang. Kita sekarang punya model open-weight. Hambatan biaya untuk melatih model dasar sudah hilang. Sudah terlambat," akunya.

Meski begitu, Hinton menilai perkembangan AI tetap positif untuk produktivitas, pendidikan, dan kesehatan. Ia juga membela diri dari tuduhan sebagai penyebar ketakutan. "Mengkhawatirkan efek buruk AI dan hal-hal yang mungkin dilakukan makhluk cerdas ketika mereka lebih pintar dari kita, saya pikir itu tidak adil untuk disebut fear-monger," katanya.

Persaingan dengan China dan Kekuatan Lunak AI

Andrew Ng mengangkat isu yang jarang dibahas: persaingan geopolitik. Ia memperingatkan jika Amerika Serikat terlalu ketat mengatur AI open-source, China akan mengambil alih pasar negara berkembang.

"AI adalah sumber kekuatan lunak yang luar biasa. Anda bisa lihat bagaimana model China punya pencapaian luar biasa di Afrika," ujar Ng.

Ia khawatir lobi di AS justru membuat model open-source Amerika kalah bersaing dengan model open-weight buatan China. "Jika China menemukan cara yang lebih hemat biaya untuk membangun AI, maka hal yang lebih hemat biaya akan punya keunggulan adopsi bisnis yang fundamental," tambahnya.

Fei-Fei Li: Keterbukaan Bukan Pilihan Biner

Fei-Fei Li menolak framing yang memaksakan pilihan antara terbuka total atau tertutup total. Menurutnya, ekosistem AI jauh lebih kompleks dari sekadar dua pilihan ekstrem.

"Sangat berbahaya jika ini dijadikan dikotomi antara keterbukaan penuh sampai ketertutupan penuh. Dalam sistem perangkat lunak yang kompleks maupun sistem ilmiah, itu jauh lebih bernuansa," kata Li.

Ia memberi analogi fisika nuklir: makalah ilmiah diterbitkan terbuka, uranium diatur ketat, dan pekerjaan laboratorium berada di antara keduanya. Pelajaran yang bisa diambil adalah keterbukaan tidak harus serba-atau-tidak-sama-sekali. Berbagai lapisan ekosistem bisa beroperasi pada tingkat keterbukaan yang berbeda.

Ketiga pakar ini sepakat pada satu hal: masa depan AI terlalu penting untuk diserahkan hanya kepada segelintir perusahaan. Namun cara mengaturnya, tampaknya masih akan menjadi perdebatan panjang di industri.

Reporter: Joko Purnomo
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top