SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyatakan wisatawan Muslim membutuhkan sejumlah fasilitas pendukung agar nyaman selama berwisata di provinsi ini. Kebutuhan itu mulai dari tempat tinggal yang ramah, tempat ibadah, hingga kuliner bersertifikat halal.
Pernyataan itu disampaikan Taj Yasin seusai Seminar Ekonomi Puncak Pusaka Jateng 2026 di Hotel Padma Semarang, Jumat (11/9/2026). Pemprov Jateng akan menandai destinasi yang sudah ramah Muslim dan yang belum agar wisatawan mudah menentukan tujuan sesuai kebutuhan mereka.
Pemetaan mencakup tiga aspek utama yang dinilai menentukan kenyamanan wisatawan Muslim selama berada di Jawa Tengah.
"Nyaman itu terkait tempat tinggalnya yang ramah, lalu tempat ibadahnya, kulinernya yang ada sertifikat halalnya. Nah, ini yang perlu menjadi PR kita untuk genjot wisata-wisata yang menjadi wisata ramah Muslim," kata Taj Yasin.
Pemprov Jateng akan memberi tanda pada destinasi yang sudah memenuhi standar ramah Muslim dan yang belum. Katalog ini diharapkan memudahkan wisatawan Muslim mancanegara menentukan pilihan wisata.
"Kita tandai lagi nanti, oh ini wisata yang sudah ramah Muslim, ini yang belum, yang ada ini untuk mereka bisa berwisata di Jawa Tengah," ujarnya.
Pembenahan fasilitas ramah Muslim disebut bagian dari upaya lebih luas memperkuat ekosistem pariwisata. Pengembangan destinasi tidak bisa berdiri sendiri, melainkan butuh dukungan infrastruktur dan konektivitas antar-destinasi.
"Yang jelas kami ekosistemnya. Ekosistem itu meliputi dari infrastruktur, koneksi antara satu destinasi wisata dengan destinasi wisata yang lain," katanya.
Pemprov Jateng juga mengubah cara mengukur keberhasilan pariwisata. Jumlah kunjungan wisatawan tidak lagi jadi satu-satunya indikator, melainkan turut memperhitungkan tingkat kunjungan berulang.
"Jangan hanya melihat angka kunjungan wisatawannya saja, akan tetapi lebih kita detailkan lagi kunjungannya ini berulang enggak?" ujarnya.
Wisatawan yang kembali berkunjung dan merasa nyaman dinilai menunjukkan ketertarikan lebih kuat terhadap destinasi. Kondisi itu berpotensi memperluas promosi secara tidak langsung.
Taj Yasin berharap kehadiran wisatawan Muslim mancanegara memberi dampak ekonomi bagi masyarakat lokal, khususnya pelaku UMKM di desa-desa.
"Yang paling utama adalah mereka akan membelanjakan, beli oleh-olehnya di UMKM, di desa-desa, potensi di desa-desa," katanya.
Pemetaan destinasi ramah Muslim ini menyusul penyelenggaraan Seminar Ekonomi Puncak Pusaka Jateng 2026. Jadwal penerapan katalog dan mekanisme penandaan destinasi belum disebutkan dalam forum tersebut.