Pencarian

Bentang Jawa 2026: Gowes 1.500 Km Banten-Banyuwangi Tanpa Tim Pendamping

Sabtu, 12 September 2026 • 11:22:31 WIB
Bentang Jawa 2026: Gowes 1.500 Km Banten-Banyuwangi Tanpa Tim Pendamping
Pesepeda melintasi rute Bentang Jawa 2026 dari Pantai Carita, Banten, menuju Banyuwangi, Jawa Timur.

JAWA TENGAH — Pada 2026, rute dimulai dari Pantai Carita, Banten, dan berakhir di Banyuwangi, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 1.500 kilometer dengan total elevasi mencapai 16.000 meter.

Lintasan menyuguhkan beragam wajah Pulau Jawa. Mulai dari pesisir selatan Banten dan Jawa Barat, perbukitan, pegunungan, hingga hutan sebelum memasuki kawasan Bromo-Tengger-Semeru dan berakhir di Banyuwangi.

Dari Rasa Penasaran Jadi Ikut Bentang Jawa

Ketertarikan Nugraha Rodiana atau akrab disapa Nunu pada Bentang Jawa bermula dari video-video peserta yang dia tonton di YouTube. Pria yang menjabat Head of detikhot ini kemudian mencari tahu lebih banyak tentang ajang tersebut.

Sebagai pekerja kantoran dengan jam kerja tak selalu teratur, Nunu awalnya ragu bisa menjadi peserta. Di saat yang sama, rasa penasarannya justru semakin besar.

Bersepeda memang sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Kebiasaan itu bermula setelah dia mengalami kecelakaan yang membuat aktivitas fisiknya terbatas. Khawatir otot-otot kakinya melemah, dia mulai rutin bersepeda, termasuk berangkat dan pulang kerja dengan gowes.

"Sekali jalan 20-25 kilometer. Motor saya jual, biar nggak ada opsi buat naik motor," kata Nunu kemudian tertawa.

Tanpa disadari, rutinitas itu menjadi bekal penting. Selama dua tahun terakhir, bersepeda berubah menjadi kegemaran yang akhirnya membawanya ke garis start Bentang Jawa.

Tantangan Hari Pertama dan Keputusan Mengubah Pendekatan

Meski sempat ragu, Nunu akhirnya mendaftar sebagai peserta Bentang Jawa 2026. Tantangan langsung terasa sejak hari pertama.

Selain belum pernah menempuh rute Carita-Banyuwangi dengan sepeda, dia juga harus menghadapi tanjakan-tanjakan panjang dengan elevasi yang tidak main-main.

"Yang paling bikin gue deg-degan itu karena gue nggak tau jalurnya. Ini pertama kalinya gue melintasi Carita sampai Banyuwangi," ujarnya.

Setelah sempat memaksakan diri dan hanya tidur sebentar pada hari pertama, Nunu memutuskan mengubah pendekatan. Dia tak lagi terlalu fokus mengejar waktu dan memilih menikmati perjalanan.

Keputusan itu justru membuatnya lebih banyak menyerap pengalaman yang ditemui di sepanjang rute.

Semeru di Jemplang dan Pecel Daun Jati di Pacitan

Di antara banyak pemandangan yang dia temui, satu yang paling membekas adalah Gunung Semeru yang terlihat dari jalur menuju Jemplang.

"Kalo nengok itu keliatan Semeru. Itu tuh pas jam 4 dan lagi cerah banget. Semerunya tuh keliatan. Itu sih yang keren banget," kata Nunu.

Tak semua momen terasa nyaman. Ada juga saat-saat yang membuatnya tegang, seperti ketika harus melewati jalur gelap di kawasan Ranu Pane pada malam hari.

Selain menikmati lanskap Jawa, Nunu juga sempat mencicipi kuliner lokal yang ditemuinya di perjalanan. Salah satunya pecel yang disajikan menggunakan daun jati di Pacitan.

Sampai Finish, tapi Masih Kangen

Setelah akhirnya mencapai Banyuwangi, Nunu merasakan sesuatu yang tidak dia duga. Bukannya lega lalu melupakan perjalanan itu, dia justru merasa rindu.

"Kayak masih ada rasa kangennya. Sampai sekarang loh, seminggu setelahnya," kata dia.

Perasaan itu membuatnya memahami mengapa banyak peserta kembali mengikuti Bentang Jawa berkali-kali. Rute yang berubah setiap tahun membuat perjalanan selalu menghadirkan tantangan dan cerita baru.

Bagi siapa pun yang ingin mencoba Bentang Jawa atau perjalanan jarak jauh serupa, Nunu punya satu pesan penting. Menurutnya, persiapan fisik memang diperlukan, tetapi mental dan tekad tidak kalah penting.

Perjalanan sepanjang itu, kata dia, pasti akan menghadirkan fase yang luar biasa berat dan menderita.

"Suffering sih. Cuma karena lo memang punya tekad yang kuat untuk mencapai finish, jadi lo akan menikmati aja," ujar Nunu.

Mungkin itulah yang membuat banyak peserta kembali lagi ke Bentang Jawa. Capeknya berat, tetapi cerita yang dibawa pulang terasa jauh lebih besar.

Follow semarang24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: travel.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks