JAWA TENGAH — Pertemuan di Jakarta itu melibatkan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu. Cakupan kerja sama yang dibicarakan mencakup penyediaan bahan baku, fasilitas pengolahan, infrastruktur energi, logistik dan distribusi, hingga kepastian penyerapan produk.
Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani menilai potensi lahan, kebun, fasilitas produksi, dan bahan baku yang dimiliki perseroan dapat disinergikan dengan kapabilitas Pertamina dalam pengembangan dan pemasaran energi.
"Kolaborasi ini diharapkan dapat membentuk ekosistem bioenergi yang terintegrasi, mulai dari kebun, fasilitas pengolahan, infrastruktur pendukung, hingga penyerapan produk," ujar Abdul Ghani.
Pabrik Bayas Biofuels Jadi Prioritas
Proyek yang paling disorot dalam pembahasan adalah reaktivasi Pabrik Bayas Biofuels di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Pabrik itu memiliki kapasitas produksi sekitar 600.000 ton FAME (fatty acid methyl ester) per tahun.
Menurut Abdul Ghani, reaktivasi pabrik tersebut diarahkan menjadi sumber pasokan FAME pertama yang disediakan oleh BUMN. Langkah ini diharapkan memperkuat peran BUMN dalam rantai pasok biodiesel nasional sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan bahan bakar nabati secara berkelanjutan.
Peran Agrinas di Sisi Hulu
Agrinas Palma siap mengambil peran pada sisi hulu dengan memastikan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan. Posisi itu dinilai krusial karena produksi FAME sangat bergantung pada pasokan minyak sawit dan bahan baku lain yang stabil.
Dari sisi Pertamina, sinergi ini memberi jaminan pasokan untuk kebutuhan biodiesel dalam negeri. Pertamina selama ini menjadi penyalur utama bahan bakar nabati melalui program mandatori biodiesel pemerintah.
Mengapa Proyek Ini Penting
Reaktivasi Pabrik Bayas Biofuels berpotensi memperkuat kemandirian energi nasional di sektor bahan bakar nabati. Selama ini sebagian pasokan FAME dipenuhi produsen swasta, sehingga kehadiran BUMN di rantai pasok diharapkan menambah bantalan terhadap gejolak harga dan permintaan.
Pemerintah sendiri terus mendorong peningkatan porsi biodiesel dalam bauran energi nasional. Kepastian penyerapan produk menjadi kunci agar investasi di sisi hulu, termasuk kebun dan fasilitas pengolahan, berjalan ekonomis.
Pembahasan lanjutan soal skema kerja sama, pendanaan, dan jadwal reaktivasi pabrik belum dirinci dalam pertemuan tersebut. Namun arahnya sudah jelas: Agrinas Palma di hulu, Pertamina di hilir dan pemasaran, dengan Pabrik Bayas Biofuels sebagai titik awal.