Guru besar UGM Prof Zainal Arifin Mochtar menilai buku berfungsi membuka ruang publik yang kian tergerus di perkotaan. Penilaian itu disampaikannya saat diskusi "Gerakan Literasi untuk Republik" dan peluncuran buku "Cerita Khatulistiwa" di Gramedia Jalma Semarang, Sabtu. Pesta Literasi Indonesia 2026 bertema #MembacaRepublik berlangsung September-Oktober di Semarang, Jakarta, Kupang, dan Palembang.
SEMARANG — Prof Zainal Arifin Mochtar, akademisi Universitas Gadjah Mada yang akrab disapa Prof Uceng, menyoroti peran buku sebagai pembuka ruang publik. Menurutnya, membaca membangun kesadaran sekaligus menciptakan ruang diskursus dan perdebatan.
"Karena buku itu kalau Anda baca, Anda membangun kesadaran, dan sebenarnya pada saat yang sama membuka ruangan ruang publik, ruang diskursus, ruang perdebatan, ruang wacana," katanya di Semarang, Sabtu.
Pakar tata negara itu menyoroti menyusutnya ruang publik fisik di kota-kota. Lapangan bermain anak dan lapangan olahraga makin sulit ditemukan.
"Kita sulit lagi menemukan misalnya lapangan untuk bermain bola buat anak-anak gitu. Sudah berubah menjadi lapangan futsal, padel, minisoccer yang orang mau akses harus bayar," ujarnya.
Dulu, katanya, banyak ruang terbuka yang memungkinkan orang berkumpul tanpa sekat. Kini orang cenderung berkumpul dalam komunitas tertutup yang tidak bebas dimasuki orang lain.
"Makanya, saya katakan buku itu harusnya membuka. Makanya, pesta literasi ini kan cara untuk membuka ruang publik, ruang kesadaran," kata Prof Uceng.
Penulis "Cerita Khatulistiwa" A Fuadi membagi resep menulis buku fiksi. Pertama, buku harus menyajikan informasi baru. Kedua, buku mesti menghibur pembaca.
Ketiga, buku perlu memberi pembaca kemampuan melarikan diri sejenak dari kenyataan. Fuadi menyebutnya sebagai "ability to escape".
"Dia punya 'ability to escape'. Membuat pembaca itu bisa kabur aja dulu. Dari kisah hidup nyata dia sehari-hari dia pindah ke alam fiksi. Dan itu perlu," katanya.
Pesta Literasi Indonesia 2026 mengusung tema #MembacaRepublik. Rangkaian acara berlangsung September-Oktober 2026 di empat kota besar: Semarang, Jakarta, Kupang, dan Palembang.
Ketua Pelaksana Immanuel Victorian Naffi menyatakan perluasan jangkauan ke empat kota merupakan respons atas tantangan akses literasi dan tingginya minat masyarakat daerah.
"Rangkaian acara diawali dari Semarang pada 12 September di Gramedia Jalma Pandanaran yang ditandai dengan peluncuran buku kumpulan cerita 'Cerita Khatulistiwa' dan diskusi," katanya.
Setelah Semarang, rangkaian berlanjut ke Jakarta pada 26-27 September di Urban Forest Cipete. Kupang menyusul pada 17-18 Oktober, lalu ditutup di Palembang pada 31 Oktober-1 November 2026.
Turut hadir sebagai pembicara, aktivis sekaligus cucu proklamator Bung Hatta, Gustika Jusuf-Hatta, dan CEO Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan.