Putin Klaim Puluhan Negara Terpikat BRICS, Perdagangan Tembus USD1,2 Triliun

Penulis: Joko Purnomo  •  Senin, 14 September 2026 | 08:50:31 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan pernyataan pada sesi penutup KTT BRICS.

JAWA TENGAH — Putin menyebut lonjakan minat negara-negara di luar blok itu bukan tanpa alasan. Nilai-nilai dasar BRICS dinilainya menawarkan jalur alternatif bagi negara yang ingin lepas dari tekanan ekonomi blok Barat.

"Nilai dan cita-cita dasar kami -seperti komitmen terhadap jalur independen serta keinginan menyelesaikan masalah secara kolektif berdasarkan hukum internasional dan Piagam PBB- sangat memikat bagi banyak negara," ujar Putin di hadapan para pemimpin dunia.

Kontribusi BRICS ke PDB Dunia Capai 49%

Selain nilai perdagangan, Putin membeberkan sejumlah statistik yang menegaskan posisi BRICS dalam perekonomian global. Data itu memperkuat klaimnya bahwa blok ini bukan lagi sekadar forum konsultasi, melainkan motor pertumbuhan.

  • Perdagangan antar-anggota BRICS menembus USD1,2 triliun
  • Kontribusi hampir seperempat dari total ekspor global
  • Menyumbang 49% dari pertumbuhan PDB dunia

Angka 49% itu menjadi sinyal bahwa pusat gravitasi ekonomi global mulai bergeser dari G7 ke kelompok negara berkembang. Bagi investor yang memantau aliran modal ke emerging market, komposisi ini penting karena menentukan arah kebijakan dagang dan mata uang di tahun-tahun mendatang.

Multipolarisme dan Tatanan Dunia Baru

Putin menggambarkan BRICS sebagai pendorong utama lahirnya "multilateralisme sejati" dan tatanan dunia multipolar baru yang lebih adil. Narasi ini yang disebutnya jadi magnet bagi puluhan negara yang mendambakan keadilan ekonomi.

"Potensi pengembangan BRICS masih jauh dari kata habis," tegas Putin.

Pernyataan itu disampaikan pada sesi penutup KTT yang mempertemukan para pemimpin negara anggota dengan negara-negara mitra. Forum ini jadi ajang perluasan pengaruh BRICS ke kawasan di luar anggotanya.

Apa Artinya bagi Negara yang Ingin Bergabung

Bagi negara-negara yang tengah menimbang bergabung, daya tarik BRICS terletak pada janji kemitraan dagang yang tidak menuntut syarat politik seketat blok Barat. Rusia dan China jadi dua pendorong utama agenda ini.

Namun, ekspansi keanggotaan juga membawa konsekuensi. Setiap negara baru harus menyesuaikan diri dengan struktur perdagangan yang didominasi yuan dan rubel, sementara akses ke pasar dolar tetap terbatas.

Bagi pelaku bisnis Indonesia, perkembangan ini layak dicermati. Indonesia sendiri telah menyatakan minat bergabung dengan BRICS pada awal 2025. Keputusan final masih menunggu kajian dampak terhadap hubungan dagang dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Joko Purnomo
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top