JAWA TENGAH — Kabar duka datang dari keluarga aktris Thalita Latief. Sang ayah, Riki Isman Latief, mengembuskan napas terakhir di usia 67 tahun setelah berjuang melawan komplikasi penyakit jantung yang sudah lama diidapnya.
Jenazah almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada Kamis (10/9). Prosesi pemakaman dihadiri keluarga inti dan kerabat dekat.
Bukan Kepergian Mendadak
Thalita menjelaskan bahwa berpulangnya sang ayah bukan peristiwa yang tiba-tiba. Almarhum sudah lama mengidap sakit jantung dan kondisinya terus menurun dalam dua minggu terakhir sebelum meninggal.
Sebelumnya, almarhum menjalani prosedur operasi bypass Bentall jantung. Tindakan bedah itu tergolong sebagai salah satu operasi paling sulit dalam penanganan penyakit jantung.
"Kita kan memang nganterin berobat. Memang kebetulan ayahku sudah lama sakit, cuman yang terakhir ini memang karena sudah komplikasi. Sebenarnya sudah lama sakit jantung, cuman kali ini tuh harus bypass Bentall jantung. Operasi yang cukup sulit kalau di masalah penyakit jantung, itu termasuk operasi bedah yang paling sulit," kata Thalita Latief.
Pilihan Berobat di Padang
Almarhum memilih sendiri lokasi perawatan medisnya di Padang, Sumatera Barat, karena tim dokter yang menanganinya berada di sana. Keluarga mendukung penuh keputusan tersebut.
Menurut Thalita, sang ayah sudah sekitar dua bulan menjalani perawatan di Padang. Kondisinya sempat naik turun sebelum akhirnya menurun drastis di ruang ICU.
"Tim dokternya ada di Padang, jadi dia pengin di situ. Ya kita sebagai keluarga kan mendukung apa yang dia mau. Jadi sebenarnya ayahku sudah dua bulan di sana, cuman memang kondisinya menurun sudah dua minggu terakhir di ICU. Kondisinya naik turun sampai akhirnya ya turun, terus gak ada," tutur Thalita Latief.
Gagal Napas dan Gagal Jantung
Selama penanganan intensif, kondisi fisik almarhum terus menurun. Thalita menyebut kegagalan fungsi organ vital menjadi penyebab berpulangnya sang ayah.
"Komplikasi jantung, sih. Jadi gagal napas, gagal jantung. Kalau ditanya meninggalnya kenapa, sudah komplikasi sampai akhirnya mengembuskan napasnya itu karena dia gagal napas, gagal jantung. Sebenarnya sudah komplikasi ke organ-organ yang lain," terangnya.
Perjalanan medis almarhum berlangsung berat, terutama di fase pemulihan pascaoperasi. Komplikasi diperparah oleh pendarahan yang terjadi setelah tindakan bedah besar tersebut.
"Proses ini panjang ya, bukan hanya pas di ICU. Dari sebelum operasi besarnya, pascaoperasinya sampai akhirnya drop, pendarahan, terus komplikasi. Jadi prosesnya panjang," pungkasnya.
Setelah dinyatakan meninggal di rumah sakit di Padang, jenazah diterbangkan ke Jakarta. Seluruh rangkaian pemulangan hingga pemakaman berjalan lancar.