Abon Lele Pawon Mbok Kumpul Semarang Tembus Australia, Tahan 5-6 Bulan di Suhu Ruang

Penulis: Gunawan Susilo  •  Rabu, 16 September 2026 | 23:28:01 WIB
Produk abon Pawon Mbok Kumpul dipamerkan pada ajang UMKM di Matahari Plaza Simpang Lima Semarang.

SEMARANG — Pemilik UMKM Pawon Mbok Kumpul, Susiwati (55), menyebut produk abon lele miliknya pernah dibawa ke Australia oleh komunitas yang mendorong pengembangan UMKM lokal. Pengalaman itu menjadi bagian dari proses memperluas pengenalan produk usaha mikro asal Semarang ke pasar yang lebih luas.

Dalam pameran di Matahari Plaza Simpang Lima Semarang, Susiwati membawa empat produk utama: abon bandeng, abon lele, abon ayam, dan bawang goreng. Produk-produk tersebut juga dikembangkan menjadi makanan turunan seperti lumpia berisi abon.

Lumpia Isi Abon, Cara Baru Menikmati Produk Turunan

Lumpia yang dijual Pawon Mbok Kumpul tidak memakai isian ayam biasa. Susiwati memasukkan abon ke dalamnya supaya rasa khas abon tetap terasa saat disantap.

"Lumpia biasanya isinya ayam biasa. Kami coba masukkan abon. Jadi rasa dari lumpia itu terasa juga," kata Susiwati saat ditemui beritajateng.tv, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, konsep itu memberi pengalaman berbeda bagi konsumen. Karakter makanan asli tetap terjaga, sementara rasa abon muncul sebagai isian utama.

Abon Jadi Lauk Praktis untuk Anak Kos hingga Traveler

Nilai jual abon, kata Susiwati, ada pada kepraktisannya. Produk ini mudah disimpan dan dibawa ke mana saja, sehingga cocok untuk ibu rumah tangga, anak kos, hingga orang yang butuh bekal saat bepergian.

"Termasuk untuk traveling juga bagus untuk oleh-oleh," ujarnya.

Dari beberapa jenis abon yang diproduksi, abon bandeng dan abon ayam menjadi produk paling banyak diminati pembeli selama ini.

Klaim Daya Simpan 5-6 Bulan Berdasarkan Uji Mandiri

Susiwati menyebut abon produksinya bisa bertahan sekitar lima hingga enam bulan dalam suhu ruang. Klaim itu, kata dia, berdasarkan pengujian mandiri yang dilakukan terhadap produknya.

"Saya berani klaim kalau abon-abon ini karena memang kering, lima sampai enam bulan. Sudah kita uji lapangan, uji mandiri juga," ucapnya.

Uji tersebut dilakukan dengan menyimpan produk di etalase dalam kondisi suhu ruang selama beberapa bulan. Proses pembuatan yang kering menjadi alasan utama daya simpan abon lebih panjang dibanding lauk basah.

Respons Konsumen dan Cara Susiwati Memandang Pameran

Selama pameran, Susiwati mengaku mendapat respons dari berbagai kalangan, mulai dari tamu undangan hingga sesama pelaku UMKM. Sejumlah konsumen yang sebelumnya pernah membeli produknya kembali melakukan pembelian ulang.

Cerita dari konsumen yang telah mencoba produk, menurutnya, menjadi salah satu cara penting untuk memperkenalkan abon Pawon Mbok Kumpul ke pasar yang lebih luas. Dia tidak hanya mengejar jumlah penjualan dalam setiap pameran.

"Yang penting intinya produk kami dikenal. Bahwa UMKM juga mampu mengangkat produk abon, segala macam, enggak pabrikan," katanya.

Pameran UMKM di Matahari Plaza Simpang Lima Semarang sendiri digelar bersamaan dengan rangkaian MTQ Nasional XXXI tahun 2026, memberi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk kepada pengunjung dari berbagai daerah.

Reporter: Gunawan Susilo
Sumber: beritajateng.tv This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top