KUDUS — Pengurus Kabupaten Taekwondo Indonesia Kudus menyiapkan empat atlet untuk berlaga di Pekan Olahraga Provinsi Jawa Tengah. Keempat atlet itu dinyatakan lolos setelah mengikuti tahapan Pra-Porprov yang digelar di Kodam IV/Diponegoro, Semarang.
Dari hasil seleksi tersebut, Kudus meloloskan atlet pada dua nomor pertandingan. Nomor Poomsae beregu putra diperkuat tiga atlet, sedangkan nomor Kyorugi putri kelas Under 53 kilogram diisi satu atlet, Faizatin Naila Muna.
Ketua Pengkab sekaligus pelatih utama Taekwondo Kudus, Andreas Sugianto, menyebut persiapan menghadapi Porprov telah berjalan sejak Mei 2026. Bahkan sebelum pelaksanaan Pra-Porprov.
Selama masa persiapan, atlet menjalani latihan enam kali dalam sepekan. Lima sesi diisi latihan teknik dan fisik, sementara latihan fisik penuh dilaksanakan setiap Minggu.
Latihan digelar di GOR, kawasan Gunung Muria, maupun lokasi lain untuk meningkatkan daya tahan dan kesiapan atlet.
Andreas menjelaskan, pola latihan disesuaikan dengan periodisasi. Pada tahap awal, latihan menggabungkan fisik dan teknik.
Memasuki satu bulan sebelum pertandingan, porsi latihan lebih banyak diarahkan pada teknik, taktik, dan strategi pertandingan.
Persaingan Taekwondo pada Porprov dinilai cukup ketat. Seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah memiliki atlet yang bersaing di cabang olahraga tersebut.
Karena itu, persiapan tidak hanya difokuskan pada kemampuan fisik dan teknik, tetapi juga mental.
"Sebagus apa pun teknik dan fisiknya, kalau mentalnya tidak bagus, percuma. Begitu masuk lapangan mentalnya drop, kemampuan bisa hilang," ujar Andreas.
Evaluasi khusus diberikan kepada tim Poomsae beregu putra. Tiga atlet dituntut memiliki kekompakan dalam setiap gerakan.
Kesamaan irama, kecepatan, tenaga, keseimbangan, dan kelenturan menjadi bagian penting. Sebab, kesalahan satu atlet dapat memengaruhi penilaian seluruh tim.
Pada nomor Kyorugi, latihan diarahkan pada teknik serangan, counter, fisik, serta strategi menghadapi karakter lawan yang berbeda. Atlet juga terus diasah agar memiliki refleks yang baik.
"Di Taekwondo tidak bisa berpikir lama-lama karena sangat cepat. Refleks itu muncul karena sering dilatih dan sering menghadapi berbagai tipe lawan," jelas Andreas.
Andreas menyebut salah satu tantangan utama adalah menjaga konsentrasi atlet hingga pertandingan berakhir. Atlet kerap kehilangan fokus pada menit-menit akhir ketika kondisi fisik mulai menurun.
Selain latihan rutin, atlet juga mengikuti try out dan berbagai open tournament di luar Kudus. Langkah tersebut dilakukan untuk menambah pengalaman sekaligus membangun mental bertanding.
"Jangan sampai sudah unggul poin, tetapi di menit terakhir kehilangan konsentrasi dan akhirnya kecolongan," katanya.
Keempat atlet Kudus yang akan berlaga memiliki rentang usia sekitar 17 hingga 22 tahun. Andreas berharap seluruhnya mampu tampil maksimal dan mempertahankan hasil yang diraih pada Pra-Porprov saat tampil di ajang Porprov mendatang.