Umat Lingkungan St. Matius Songgolangit Sukoharjo Rayakan Pesta Nama, Romo Anggras Ajak Belajar dari Kisah Perubahan Sang Rasul

Penulis: Faizal Ramadhan  •  Selasa, 22 September 2026 | 08:46:02 WIB
Romo Anggras memimpin misa Pesta Nama Lingkungan St. Matius di Sukoharjo.

SUKOHARJO — Dalam khotbahnya, Romo Anggras menyoroti perjalanan hidup Matius yang dahulu dikenal sebagai pemungut cukai. Profesi itu membuatnya dipandang buruk oleh masyarakat pada zamannya. Namun ketika Yesus memanggilnya, Matius memilih meninggalkan kehidupan lamanya dan langsung mengikuti Yesus.

Kisah tersebut, menurut Romo Anggras, menjadi pengingat bahwa masa lalu bukanlah akhir dari perjalanan seseorang. Matius yang semula dipandang sebelah mata kemudian berubah menjadi salah satu murid Yesus dan dikenal sebagai penulis Injil.

Kuis di Awal Misa Hidupkan Suasana

Untuk menghidupkan suasana, Romo Anggras mengadakan kuis bagi umat Lingkungan St. Matius di awal misa. Sejumlah pertanyaan seputar sosok Matius dilontarkan kepada umat. Mereka yang menjawab dengan tepat mendapat hadiah rosario yang telah didoakan oleh seorang suster.

Pertanyaan pertama menyangkut asal nama Matius. Seorang bapak menjawab bahwa nama itu berasal dari bahasa Yunani, namun jawaban tersebut belum tepat. Romo Anggras menjelaskan bahwa nama Matius berasal dari bahasa Ibrani.

Pertanyaan berikutnya mengenai arti nama Matius. Seorang ibu menjawab, "Hadiah dari Tuhan." Jawaban itu dinyatakan benar dan ibu tersebut mendapatkan sebuah rosario.

Suasana semakin menarik ketika Romo bertanya, setelah menjadi pemungut cukai, Matius akhirnya menjadi apa. Dari tengah umat, seorang anak yang masih dalam gendongan tiba-tiba menjawab lantang, "Murid Yesus!" Jawaban itu benar, dan bocah kecil tersebut pun menerima hadiah rosario dari Romo Anggras.

Nomen Est Omen: Nama sebagai Doa Orang Tua

Di sela penjelasannya, Romo Anggras mengangkat ungkapan Latin "Nomen est omen", yang dimaknai sebagai nama adalah doa. Menurutnya, nama Matius yang diberikan orang tuanya mengandung doa dan harapan agar anak tersebut menjadi hadiah dari Tuhan.

Dalam perjalanan hidupnya, doa tersebut seakan menemukan maknanya ketika Matius benar-benar menjadi pribadi yang membawa kebaikan dan dipanggil menjadi murid Yesus.

"Nama Matius diberikan dengan doa dan harapan agar ia menjadi hadiah dari Tuhan. Nomen est omen, doa dari orang tua yang diselipkan dalam nama," ujar Romo Anggras.

Ajakan Berubah dan Membangun Kebersamaan

Romo Anggras mengajak umat mengambil pelajaran dari perjalanan hidup St. Matius. Setiap orang, katanya, harus memiliki kemauan untuk berubah, terutama berubah dari keadaan sebelumnya menuju kehidupan yang lebih baik.

Pesan itu sejalan dengan tema Pesta Nama St. Matius yang mengajak umat tidak hanya membuka hati terhadap Tuhan, tetapi juga membangun kebersamaan dengan sesama.

Usai Misa Suci, acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Lingkungan St. Matius, Ibu Yuli. Ia menyampaikan terima kasih kepada Romo Anggras yang telah hadir dan memimpin misa, serta kepada seluruh umat atas dukungan dan kebersamaan yang selama ini terbangun.

Mewakili Ketua Wilayah Andreas, Irfan menyampaikan ucapan selamat atas terselenggaranya Pesta Nama Lingkungan St. Matius. Ia berharap perayaan tersebut semakin memperkuat kehidupan iman umat dan mendorong warga lingkungan meneladani perjalanan hidup St. Matius.

"Semoga Tuhan memberikan anugerah-Nya dengan tumbuhnya iman di Lingkungan St. Matius dan warga dapat meneladani kisah hidup St. Matius," kata Irfan.

Wawan Hati dan Penjelasan Struktur Gereja

Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama sebelum memasuki sesi wawan hati. Dalam sesi itu, umat diberi kesempatan menyampaikan berbagai pertanyaan dan berbincang langsung dengan Romo Anggras.

Salah satu pertanyaan yang muncul berkaitan dengan pembagian Gereja Katolik ke dalam struktur organisasi bertingkat, mulai dari paroki, wilayah, hingga lingkungan. Romo Anggras menjelaskan bahwa pembagian tersebut bukan untuk memisahkan umat, melainkan agar umat semakin saling mengenal dan memiliki peran dalam pelayanan.

Dengan lingkup yang lebih kecil, pastor sebagai gembala umat diharapkan dapat semakin dekat dengan umat yang dilayaninya.

Reporter: Faizal Ramadhan
Sumber: joglosemarnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top