Tesla Tabrak Mobil Patroli CHP Saat FSD Aktif, Pengemudi Ngaku Tertidur

Penulis: Joko Purnomo  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:50:01 WIB
Tesla yang diklaim berjalan dengan sistem Full Self-Driving menabrak mobil patroli CHP di Interstate 80 dan melukai dua petugas.

JAWA TENGAH — Sebuah Tesla yang diklaim berjalan dengan sistem Full Self-Driving menabrak mobil patroli California Highway Patrol yang sedang bertugas di Interstate 80, melukai dua petugas. Pengemudi berusia 22 tahun mengaku tertidur di belakang kemudi saat insiden terjadi. Kasus ini memperkuat kritik bahwa teknologi bantuan mengemudi Level 2 belum menggantikan kewaspadaan manusia.

Kecelakaan terjadi pada Selasa, 13 Oktober, ketika petugas CHP Solano sedang menangani crash fatal di Interstate 80. Empat lajur jalan ditutup dan seluruh kendaraan dialihkan ke lajur lambat. Area penutupan ditandai kerucut lalu lintas, suar, dan sejumlah kendaraan darurat dengan lampu berkedip.

Tesla yang dikemudikan pria 22 tahun tetap melaju dengan kecepatan jalan tol dan masuk ke lajur yang ditutup. Mobil listrik itu menabrak Dodge Charger milik CHP yang tengah diisi dua petugas. Pengemudi Tesla hanya mengalami luka ringan, sementara kedua petugas menderita luka serius dan sempat dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.

Klaim Pengemudi: Tertidur Saat FSD Aktif

Menurut keterangan California Highway Patrol, pengemudi mengaku tertidur di belakang kemudi ketika sistem FSD dalam kondisi aktif. Klaim tersebut menjadi inti penyelidikan karena bertentangan dengan aturan pakai sistem itu sendiri.

CHP menegaskan bahwa marka jalan berupa kerucut, suar, dan lampu darurat seharusnya cukup menjadi sinyal bagi pengemudi untuk mengambil alih kendali. "Technology does not relieve drivers of their responsibility to safely operate their vehicles," tulis CHP dalam unggahan media sosialnya, seperti dikutip Reuters.

FSD Tetap Level 2, Bukan Otonom Penuh

Terlepas dari namanya, Full Self-Driving masih tergolong sistem bantuan pengemudi SAE Level 2. Artinya, pengemudi wajib tetap waspada dan siap mengambil alih kendali setiap saat. Sistem ini tidak dirancang untuk mengemudi tanpa pengawasan manusia.

Di Eropa, Tesla baru-baru ini menyetujui penggantian nama FSD menjadi "Tesla Assisted Driving". Langkah itu diambil setelah regulator menilai penamaan sebelumnya berpotensi menyesatkan konsumen soal kemampuan sistem.

Implikasi bagi Pengguna di Indonesia

Kasus ini relevan bagi pasar Indonesia yang mulai kedatangan kendaraan listrik dengan fitur bantuan mengemudi canggih. Fitur seperti adaptive cruise control dan lane keeping assist tetap menuntut pengemudi memegang kemudi dan memantau jalan.

Produsen mobil listrik di dalam negeri umumnya membatasi fitur semi-otonom pada level yang mengharuskan tangan pengemudi tetap di setir. Regulasi soal tanggung jawab hukum saat fitur aktif masih minim, sehingga keselamatan bergantung pada disiplin pengemudi.

Insiden di California menunjukkan bahwa sensor dan kamera belum sepenuhnya andal membaca situasi darurat di jalan, terutama area penutupan yang dijaga petugas. Pengemudi yang mengandalkan sistem secara berlebihan berisiko membahayakan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.

Reporter: Joko Purnomo
Sumber: roadandtrack.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top