JAWA TENGAH — MotoGP memilih tetap menggelar seri Qatar 2026 di Sirkuit Lusail meski konflik militer Timur Tengah memanas dan Yamaha menarik dua timnya dari balapan. Keputusan itu bertumpu pada kepentingan komersial yang mengikat hingga musim 2031, bukan semata soal pengamanan sirkuit.
Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memengaruhi kawasan Timur Tengah sepanjang 2026 kembali meningkatkan kekhawatiran menjelang MotoGP Qatar. Yamaha mengambil sikap paling tegas dengan memboikot lomba dan menarik dua timnya dari ajang tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Yamaha menyebut belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk mengubah kebijakan pembatasan perjalanan perusahaan yang saat ini berlaku. Pabrikan Jepang itu menegaskan keputusannya diambil berdasarkan evaluasi terhadap informasi yang tersedia, tidak bergantung pada langkah pengamanan yang telah diterapkan MotoGP maupun penyelenggara balapan.
Yamaha memastikan tetap berkomitmen terhadap kejuaraan MotoGP dan berencana kembali berkompetisi pada seri selanjutnya di Portugal. Sikap itu memunculkan pertanyaan: mengapa MotoGP bersikeras menggelar balapan di Qatar?
Sirkuit Internasional Lusail di luar Doha masuk kalender MotoGP mulai 2004. Sejak 2008, sirkuit tersebut dikenal sebagai lokasi balapan malam pertama sekaligus satu-satunya dalam kalender kejuaraan.
Fasilitas modern menjadi salah satu pertimbangan, tetapi bukan alasan utama. Qatar merupakan mitra komersial penting bagi kejuaraan dunia tersebut.
Maskapai nasional Qatar Airways menjadi sponsor utama untuk tiga dari total 22 seri MotoGP musim ini. Perusahaan tersebut juga memiliki eksposur sponsor di berbagai sirkuit dalam kalender kejuaraan.
Doha juga berperan sebagai salah satu pusat transportasi penting untuk perjalanan internasional, khususnya penerbangan menuju dan dari Eropa. Posisi itu membuat Qatar strategis bagi kebutuhan logistik MotoGP.
Biaya penyelenggaraan atau hosting fee yang dibayarkan Qatar kepada MotoGP tidak dipublikasikan secara terbuka. Namun, Qatar dilaporkan membayar biaya lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara tuan rumah lainnya.
Kontrak penyelenggaraan Qatar masih berlaku hingga musim 2031. Pembatalan balapan berpotensi memberikan dampak finansial besar bagi MotoGP.
Di sisi lain, situasinya bisa berbeda apabila Qatar menyatakan tidak mampu menjadi tuan rumah. Kewajiban penyelenggaraan berdasarkan kontrak juga akan menjadi pertimbangan dalam skenario tersebut.