MAGELANG — Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah Hanung Triyono menyatakan pengembangan desa wisata menjadi salah satu strategi memperluas persebaran kunjungan wisatawan, terutama di kawasan sekitar destinasi utama. Salah satu desa yang dinilai berhasil menarik wisatawan asing adalah Desa Wisata Candirejo di Kabupaten Magelang.
Di Candirejo, sekitar 10 wisatawan asal Jerman menyusuri desa menggunakan delman, mengunjungi industri rumahan tempe dan keripik tempe, lalu mencoba memainkan gamelan bersama warga. Perjalanan ditutup dengan teh hangat dan makanan ringan.
Bagi Ina, wisatawan asal Jerman, kunjungan ke Candirejo memberi pengalaman berbeda karena bisa melihat langsung keseharian warga desa. "Hari ini sungguh luar biasa. Ada banyak hal berbeda yang bisa kami lihat, mulai dari pengalaman naik kuda, proses pembuatan berbagai produk, hingga melihat bagaimana masyarakat di sini menjalani kehidupan sehari-hari. Semua orang menyambut kami dengan sangat hangat dan ramah," ungkapnya, Kamis (5/11/2026).
Ina mengaku baru pertama kali mengetahui proses pembuatan keripik tempe. Menurutnya, dibutuhkan kerja keras untuk menghasilkan camilan yang terlihat sederhana itu.
Wisatawan lain, Anke, juga menikmati kunjungan pertamanya ke Candirejo. "Saya juga berasal dari Jerman, tepatnya dari wilayah utara dekat Hamburg. Ini pertama kalinya saya berkunjung ke sini, dan saya benar-benar menikmatinya. Semuanya sangat menyenangkan," kata Anke.
Ketua Koperasi Desa Wisata Candirejo Ahmad Mudhofar Ersyidik menjelaskan, desa wisata itu mulai dirintis pada 1996. Gagasan berawal dari keprihatinan pemerintah desa karena lokasinya berdekatan dengan Candi Borobudur, tetapi masyarakat belum memperoleh manfaat ekonomi secara optimal.
Pemerintah desa membentuk kelompok kerja untuk memetakan potensi wilayah. Setelah mendapat pendampingan lembaga swadaya masyarakat pada 1999, Candirejo ditetapkan sebagai proyek percontohan desa wisata Kabupaten Magelang dan diresmikan pada 2003.
"Dalam perkembangannya, pengelolaan pariwisata dilakukan melalui Koperasi Desa Wisata Candirejo. Lembaga ini menjadi penghubung antara pemerintah desa, masyarakat, dan pelaku usaha dalam mengelola paket wisata," tutur Ersyidik.
Konsep yang ditawarkan Candirejo adalah paket wisata berbasis aktivitas masyarakat, mencakup kelompok dokar, katering, kesenian, homestay, hingga industri rumahan. Wisatawan yang datang ke industri rumahan tidak sekadar ditawari membeli produk, tetapi diperlihatkan proses pembuatannya.
Konsep itu berdampak pada pendapatan. Pada 2025, omzet pengelolaan Desa Wisata Candirejo mencapai sekitar Rp 2,25 miliar dalam setahun. Manfaatnya tidak hanya dirasakan warga yang terlibat langsung, tetapi juga menjangkau 15 dusun melalui donasi dusun dan pembagian sisa hasil usaha (SHU) koperasi.
"Kurang lebih 80 persen masyarakat bisa tersentuh, baik secara langsung maupun tidak langsung," jelas Ersyidik.
Keberadaan desa wisata juga mendorong tumbuhnya lapangan pekerjaan dan kecintaan generasi muda terhadap kesenian tradisional. Kesadaran warga terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan ikut meningkat seiring kedatangan wisatawan.
"Dulunya Candirejo merupakan desa miskin, sekarang sudah berubah dan naik kelas. Setelah jadi Desa Wisata, kami banyak dibantu oleh Pemprov Jateng untuk promosi," terang Ersyidik.
Bagi Pemprov Jateng, model Candirejo menjadi acuan untuk menyiapkan 1.000 desa wisata baru. Tujuannya memperluas sebaran kunjungan wisatawan agar tidak menumpuk di destinasi utama seperti Borobudur, sekaligus menggerakkan ekonomi warga di kampung-kampung.