BOYOLALI — Kepastian itu disampaikan BPBD Boyolali sebagai respons terhadap kekhawatiran warga akan potensi kekeringan di tengah peralihan musim dari penghujan ke kemarau. Hujan yang masih turun secara sporadis dalam beberapa pekan terakhir dinilai mampu menjaga ketersediaan air di sumber-sumber utama warga.
Belum Ada Permohonan Droping Air Bersih
Plt Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Bambang Setyo Handoko, menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada satupun permohonan bantuan air bersih yang masuk ke posko BPBD. “Sampai akhir Mei ini, kami belum menerima laporan kekeringan dari desa atau kelurahan mana pun. Kondisi masih terkendali,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus mengonfirmasi bahwa distribusi air bersih menggunakan mobil tangki belum diperlukan. BPBD masih dalam tahap siaga, memantau debit air di sejumlah titik rawan seperti Kecamatan Cepogo, Selo, dan Musuk yang kerap mengalami kekeringan saat kemarau tiba.
Pancaroba: Hujan Masih Turun, Warga Diminta Waspada
Masa pancaroba ditandai dengan cuaca yang tidak menentu—pagi cerah, siang mendung, dan hujan deras tiba-tiba dalam durasi singkat. BPBD Boyolali mencatat pola ini masih terjadi di sebagian besar kecamatan hingga pekan ketiga Mei 2026.
Meski kondisi air tanah masih cukup, Bambang mengingatkan warga untuk mulai melakukan langkah antisipasi. “Kami imbau masyarakat menghemat penggunaan air dan menampung air hujan jika memungkinkan. Ini langkah sederhana tapi efektif sebelum musim kemarau benar-benar tiba,” katanya.
Fakta Singkat: Situasi Kekeringan di Boyolali per Akhir Mei 2026
- Laporan kekeringan: Nihil. Tidak ada laporan dari desa/kelurahan.
- Permohonan air bersih: Belum ada pengajuan droping air ke BPBD.
- Kondisi cuaca: Hujan masih turun di masa pancaroba, terutama di wilayah lereng Merapi-Merbabu.
- Wilayah rawan: Kecamatan Cepogo, Selo, dan Musuk masuk zona waspada kekeringan tahunan.
Antisipasi: BPBD Siapkan Logistik dan Sumber Air Alternatif
BPBD Boyolali telah menyiagakan dua unit mobil tangki air bersih dan sejumlah tandon darurat. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Perumda Air Minum (PDAM) Boyolali untuk memastikan pasokan air di jaringan perpipaan tetap lancar.
“Kalau nanti benar-benar dibutuhkan, kami siap droping. Tapi untuk saat ini, kami harap warga tidak panik. Yang penting mulai hemat air dari sekarang,” kata Bambang.
BPBD akan memperbarui data setiap pekan dan melaporkan kondisi terkini ke BNPB serta Pemkab Boyolali. Masyarakat diminta melapor ke posko desa atau langsung ke BPBD jika menemukan tanda-tanda kekeringan seperti sumur warga mulai surut atau sumber mata air mengering.