JAWA TENGAH — China memantapkan diri sebagai produsen pertanian nomor satu dunia. Negeri Tirai Bambu itu memproduksi padi, gandum, jagung, kedelai, kapas, hingga kentang dalam skala masif. Data yang dirangkum Agrolearner dan dikutip Stars Insider menunjukkan sektor pertanian China menyerap lebih dari 300 juta tenaga kerja.
Transformasi pertanian berbasis teknologi dan keberlanjutan menjadi kunci utama China. Sektor ini berkontribusi sekitar 8% terhadap produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.
AS Produsen Jagung Terbesar, Sektor Pertanian Sumbang Rp 24.592 Triliun
Di posisi kedua, Amerika Serikat dikenal sebagai pemimpin teknologi pertanian modern. Negeri Paman Sam juga merupakan produsen jagung terbesar di dunia. Kontribusi sektor pertanian, pangan, dan industri terkait di AS mencapai sekitar 5,5% dari PDB pada 2023.
Nilai tersebut setara dengan USD 1,537 triliun. Jika dikonversi dengan kurs estimasi Rp 16.000 per dolar AS, angkanya mencapai Rp 24.592 triliun. Jauh melampaui nilai ekspor komoditas unggulan Indonesia seperti minyak sawit mentah (CPO) dan karet.
Indonesia di Peringkat Berapa?
Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Bank Dunia, Indonesia tercatat sebagai salah satu produsen pertanian terbesar di Asia Tenggara. Namun, secara global, posisi Indonesia masih berada di luar 10 besar.
Indonesia unggul di komoditas sawit, karet, kopi, dan kakao. Tetapi produktivitas padi dan jagung masih kalah dibanding China, India, dan AS. Keterbatasan lahan, fragmentasi kepemilikan lahan, serta adopsi teknologi yang belum merata menjadi tantangan klasik.
BUMN pangan seperti PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PPI terus didorong untuk meningkatkan produktivitas petani. Namun, tanpa terobosan kebijakan dan investasi riset, jarak dengan negara produsen utama diprediksi masih akan melebar.
Untuk diketahui, peringkat 10 besar produsen pertanian dunia didominasi oleh China, AS, India, Brasil, dan Rusia. Posisi Indonesia diperkirakan berada di kisaran peringkat 15 hingga 20 besar, tergantung metodologi dan indikator yang digunakan.