BOYOLALI — Operasi sensus terbesar tahun ini resmi bergulir. BPS Boyolali memastikan 1.182 petugas telah siap menyambangi rumah-rumah warga dan tempat usaha untuk mengumpulkan data ekonomi secara menyeluruh. Pendataan berlangsung selama dua setengah bulan, mulai pertengahan Juni hingga akhir Agustus 2026.
Sasaran: 300 Ribu Rumah Tangga dan Seluruh Sektor Usaha
Petugas tidak hanya menyasar rumah tangga biasa. Seluruh sektor usaha formal dan informal di Boyolali, mulai dari pedagang kaki lima hingga industri menengah, menjadi target pendataan. BPS menargetkan lebih dari 300 ribu entitas ekonomi akan tercatat dalam sensus ini.
“Data ini akan menjadi fondasi kebijakan ekonomi daerah ke depan,” ujar Kepala BPS Boyolali dalam keterangan resminya. Setiap petugas dibekali tablet dan formulir digital untuk mempercepat proses input data di lapangan.
Mengapa Sensus Ini Krusial bagi Boyolali?
Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar hitung-hitungan jumlah usaha. Hasilnya akan menentukan peta potensi ekonomi desa dan kota, termasuk sektor mana yang tumbuh dan mana yang butuh intervensi. Bagi pelaku UMKM, data ini bisa menjadi acuan untuk mengakses program bantuan pemerintah yang lebih tepat sasaran.
Pendataan dilakukan secara door-to-door untuk memastikan tidak ada satu pun usaha yang terlewat, terutama sektor informal yang kerap tidak tercatat dalam data administratif biasa. BPS menargetkan tingkat respons mencapai 100 persen.
Jadwal dan Mekanisme Pendataan
Petugas akan mulai turun ke lapangan pada 15 Juni 2026. Setiap rumah tangga dan tempat usaha akan dikunjungi langsung oleh petugas berseragam resmi BPS yang dilengkapi tanda pengenal. Warga diimbau menyiapkan dokumen usaha, seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) atau laporan keuangan sederhana jika ada.
BPS Boyolali juga membuka posko pengaduan bagi warga yang ingin memverifikasi identitas petugas atau melaporkan kendala di lapangan. Proses sensus dijadwalkan rampung pada 31 Agustus 2026.