SOLO — Kolaborasi internasional untuk membersihkan sungai di Kota Solo resmi dimulai. Program yang berlangsung hingga 2027 ini tidak hanya fokus pada pembersihan, tetapi juga memastikan sampah yang diangkat dari Kali Premulung tidak berakhir di TPA.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Solo, Herwin Tri Nugroho, menjelaskan bahwa realisasi awal program dilakukan dengan pemasangan trash boom atau sekat pembatas sampah di dua titik lokasi. Sampah yang terkumpul akan langsung dipilah dan diolah oleh mitra lokal.
“Target kita sampai menangani 1.000 ton sampah yang dibagi di dua titik tersebut. Skema yang dikerjakan adalah sampah yang diambil dari sungai akan langsung dipilah dan diolah oleh mitra lokal, sehingga harapannya tidak dikirim ke TPA Putri Cempo,” kata Herwin dalam keterangannya, Jumat.
Mengurangi Volume Sampah Harian Hingga Lima Persen
Herwin menambahkan, program Sungai Lestari membidik tambahan pengurangan volume sampah harian hingga lima persen. Selain membersihkan limbah domestik di aliran air, program ini juga mengintegrasikan pengelolaan sampah rumah tangga berbasis hulu.
Tujuannya mendorong penguatan ekonomi sirkular di tengah masyarakat. “Pengawasannya langsung oleh masyarakat. Kami mengutamakan edukasi agar terjadi perubahan perilaku. Jika gerakannya tumbuh dari kesadaran warga sendiri, pengawasan antartetangga akan jauh lebih efektif untuk mengubah paradigma agar sungai tidak lagi dijadikan tempat sampah,” ungkapnya.
Solo Jadi Salah Satu dari Lima Pilot Project Nasional
National Project Manager UNDP sekaligus Koordinator Tim Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut, Ahmad Bahri Rambe, mengungkapkan bahwa program ini diinisiasi secara komprehensif dengan dukungan dari Kemenko Pangan serta Kementerian Lingkungan Hidup.
Kota Solo terpilih sebagai satu dari lima wilayah percontohan di Indonesia. Empat daerah lainnya adalah Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, dan Bali. “Kami memilih lima lokasi ini dengan harapan bisa menjadi pilot project bagi 514 kota/kabupaten lainnya di Indonesia dalam menerapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, sekaligus mencegah kebocoran sampah dari darat menuju laut,” imbuhnya.
Dalam pelaksanaannya di lapangan, para mitra lingkungan akan menggerakkan relawan, komunitas peduli sungai, hingga jaringan bank sampah setempat. “Dengan terbangunnya kelembagaan yang kuat dan dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat serta Pemda, kami optimis hingga 2027 nanti sungai-sungai ini menjadi lebih bersih, indah, dan lestari,” tukas Ahmad Bahri Rambe.