SEMARANG — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti memastikan bahwa predikat Kota Layak Anak (KLA) bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk memastikan anak-anak benar-benar merasa aman dan nyaman di lingkungannya. Ia menyampaikan hal tersebut saat membuka Konferensi Anak Kota Semarang Tahun 2026 yang dihadiri 300 anak di Balai Kota, Kamis.
Aspirasi Anak Jadi Pijakan Perencanaan Pembangunan Daerah
Agustina menyebut bahwa forum konferensi tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyuarakan aspirasi mereka secara langsung. "Yang kita lakukan mati-matian adalah berpikir bagaimana anak-anak itu dapat nyaman. 'Stick on' yang kecil-kecil tadi membantu para kepala dinas untuk mengambil keputusan menjadi referensi yang penting," katanya.
Menurutnya, suara anak-anak yang tertuang dalam forum itu akan menjadi pijakan penting bagi jajaran dinas dalam merencanakan pembangunan daerah. Konferensi Anak 2026 diisi dengan diskusi kelompok lima klaster hingga perumusan Suara Anak Kota Semarang 2026, yang nantinya akan dimasukkan ke dalam Musrenbang Perempuan dan Anak.
Pionir Perlindungan Anak di Era Digital: PP Tunas dan Cyber-Parenting
Sejalan dengan dinamika era digital, Pemkot Semarang menyatakan kesiapan menjadi pionir dalam mempromosikan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Anak dalam Sistem Elektronik (PP Tunas). Langkah strategis yang didorong mencakup edukasi cyber-parenting, literasi digital di sekolah, hingga pengawasan terhadap platform digital.
"Kota Semarang sudah mencanangkan berbagai macam hal berkaitan dengan bagaimana anak-anak dapat tumbuh dengan aman, baik, dan mendapat support," ujar Agustina. Namun, ia menekankan bahwa pihaknya tidak akan memutuskan kebijakan soal handphone aman bagi anak-anak tanpa bertanya langsung kepada mereka.
Komitmen Zero Bullying: Forum Anti-Bullying di Setiap Sekolah
Selain persoalan digital, perhatian mendalam juga diberikan pada upaya pencegahan kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Agustina menegaskan bahwa tindakan bullying memberikan dampak trauma psikologis yang panjang bagi korban, sehingga gerakan pencegahan harus dibangun bersama oleh anak-anak.
"Bagi saya sebagai Wali Kota, saya berkomitmen bahwa bullying tidak boleh ada di mana pun karena dampaknya sangat membekas. Jika anak-anak setuju, mari kita buat forum anti-bullying di sekolah masing-masing," tegasnya.
UNICEF Tunjuk Semarang Jadi Tuan Rumah Program STEM untuk Remaja Putri
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan UNICEF Wilayah Jawa-Bali, Arie Rukmantara, secara resmi mengumumkan penunjukan Kota Semarang sebagai tuan rumah penyelenggaraan program penguatan keterampilan Science, Technology, Engineering, and Math (STEM) bagi remaja putri. "Kota Semarang akan jadi tuan rumah program transisi pembahasan 'science', 'technology', 'engineering', 'and math' dari UNICEF," katanya.
Arie mengapresiasi komitmen Kota Semarang yang dinilainya benar-benar menunjukkan karakter Kota Layak Anak utama yang membangun kotanya bersama anak-anak. Penunjukan ini sekaligus memperkuat posisi Semarang sebagai barometer kebijakan ramah anak di tingkat nasional.