Pencarian

Wagub Jateng Gus Yasin Minta 25 Ma'had Ali Perkuat STEM Santri Tanpa Tinggalkan Nilai Pesantren

Kamis, 13 Agustus 2026 • 13:43:31 WIB
Wagub Jateng Gus Yasin Minta 25 Ma'had Ali Perkuat STEM Santri Tanpa Tinggalkan Nilai Pesantren
Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen menegaskan santri perlu menguasai teknologi di tengah perkembangan kecerdasan buatan.

SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan santri tidak bisa lagi menghindari perkembangan teknologi. Menurutnya, penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan modern justru menjadi kebutuhan mendesak di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan di dunia pendidikan.

"Perkembangan teknologi tidak mungkin dihindari," kata Gus Yasin di Semarang, Rabu.

AI Jadi Sarana Belajar, Bukan Pangkas Tugas

Gus Yasin mengingatkan para penerima beasiswa agar memanfaatkan AI secara bijak. Teknologi ini semestinya menjadi sarana pendukung proses belajar, bukan sekadar alat untuk mempermudah pengerjaan tugas.

Ia meminta kemampuan memahami teknologi berjalan beriringan dengan penguatan keilmuan dan akhlak. "Para santri yang kami beri beasiswa kali ini, tolong pelajari betul teknologi, sains. Saat ini sudah menjadi metode pembelajaran bukan hanya di Indonesia, tetapi internasional," ujarnya.

Putra mendiang ulama kharismatik KH Maimoen Zubair itu menekankan pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk memberi manfaat bagi pendidikan, pesantren, dan masyarakat luas.

Pemprov Jateng Kunci Komitmen 25 Ma'had Ali

Dalam kesempatan yang sama, Pemprov Jateng memperluas kerja sama pendidikan dengan menandatangani nota kesepahaman bersama 25 Ma'had Ali atau perguruan tinggi berbasis pesantren. Langkah ini memperkuat ekosistem pendidikan tinggi yang tetap berpijak pada tradisi pesantren.

Beasiswa yang diberikan tidak hanya menargetkan kemampuan akademik. Pemprov Jateng ingin mencetak lulusan yang mampu berkontribusi nyata ketika kembali ke pesantren masing-masing.

Pesantren Butuh Dokter dan Ahli Pertanian

Gus Yasin mencontohkan kebutuhan riil pesantren terhadap tenaga profesional di berbagai bidang. "Pesantren butuh dokter, pesantren butuh usaha pertanian dan lain sebagainya," katanya.

Para penerima beasiswa diikat komitmen untuk kembali dan mengabdi ke pesantren yang memberikan rekomendasi. Pola ini menurut Gus Yasin memastikan investasi pemerintah melalui beasiswa berdampak berkelanjutan, bukan berhenti pada individu.

"Ketika mereka dikembalikan ke pesantrennya masing-masing, salah satu MoU antara penerima beasiswa dengan kami adalah mereka siap untuk dikembalikan ke pesantrennya yang memberikan rekomendasi untuk berkontribusi," jelasnya.

Santri diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi menjelma menjadi sumber daya manusia yang mengembangkan pesantren dan lingkungan sekitarnya.

Follow semarang24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jateng.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks