SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memanfaatkan momen Jambore Nasional (Jamnas) ke-XII di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, untuk memberikan pembekalan langsung kepada ribuan anggota Pramuka Penggalang asal daerahnya. Ia meminta seluruh kontingen menunjukkan sikap dan tutur kata yang mencerminkan nilai-nilai kepramukaan.
Kepada para peserta, Ahmad Luthfi yang juga menjabat Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Ka Mabida) Gerakan Pramuka Jateng menyampaikan bahwa pendidikan di Pramuka dirancang untuk membentuk pribadi yang tangguh. Ia menyebut para anggota akan dididik untuk bersikap mandiri, terampil, memiliki daya kreasi, serta motivasi kuat dalam menjalani kehidupan.
"Kalian akan dididik bersikap mandiri, terampil, punya daya kreasi, serta punya motivasi, sehingga bisa membanggakan diri sendiri dan orang lain," katanya dalam pernyataan di Semarang, Sabtu.
Bekal Identifikasi Masalah dan Sosialisasi Antarprovinsi
Lebih lanjut, Ahmad Luthfi menekankan pentingnya kemampuan memecahkan persoalan. Menurutnya, seorang Pramuka Penggalang harus mampu mengidentifikasi masalah dan menyelesaikannya, baik secara individu maupun dalam kerja kelompok.
Jamnas juga dimanfaatkan sebagai ajang memperluas pergaulan. Gubernur meminta para peserta untuk aktif bersosialisasi dengan perwakilan daerah lain dan menjadi duta yang memperkenalkan budaya asal masing-masing.
"Ceritakan tentang Jawa Tengah, ceritakan kabupaten/kota, ceritakan daerah asal. Anda Pramuka Penggalang yang merupakan wakil atau duta-duta Provinsi Jawa Tengah," ujarnya.
Rincian Kontingen dan Persiapan Tiga Bulan
Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jateng Slamet Budi Prayitno merinci komposisi kontingen yang diberangkatkan. Total 1.488 orang terdiri atas 1.208 Pramuka Penggalang tingkat SMP, 24 Pramuka Berkebutuhan Khusus, dan 68 pimpinan kontingen cabang.
Selain itu, turut serta 175 pembina pendamping, 12 pimpinan kontingen daerah, dan satu dokter kontingen. Seluruh peserta berasal dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah dan telah menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan sebelum keberangkatan.
Dua Pilar Utama Pendidikan Kepramukaan
Slamet menjelaskan pendidikan kepramukaan yang diberikan terbagi dalam dua kategori utama. Pertama, scouting skill yang menekankan pendidikan karakter dan kemampuan bertahan di berbagai medan. Kedua, life skill berupa keterampilan praktis sebagai bekal kehidupan sehari-hari.
Nilai cinta tanah air dan wawasan kebangsaan juga ditanamkan secara konsisten dalam setiap kegiatan. Hal ini dinilai krusial untuk membentuk generasi muda yang berkarakter kuat di tengah derasnya arus informasi.
"Pramuka penggalang sekarang akan menjadi pemimpin masa depan. Pemimpin itu tidak harus jadi pejabat publik atau negara, tapi bisa memimpin diri sendiri, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya," pungkas Slamet.