SEMARANG — Pemprov Jateng kembali memperluas akses pendidikan tinggi bagi santri melalui dua skema beasiswa baru. Program ini diumumkan langsung oleh Ketua Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Jawa Tengah, Hasyim Muhammad, di Kantor Pemprov Jateng, Semarang, Selasa (18/8/2026).
Langkah ini diambil karena pesantren dinilai sebagai salah satu basis pendidikan potensial di Jateng. Saat ini, tercatat sekitar 5.500 pondok pesantren terdaftar di provinsi tersebut, belum termasuk yang belum terdaftar.
Dua Skema Beasiswa dengan Fokus Berbeda
Skema pertama, Beasiswa Mahasantri Maahad Ali, menyediakan kuota untuk 420 orang. Penerima beasiswa ini akan mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 1 juta per semester selama enam semester, yang dialokasikan khusus untuk pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) atau SPP.
Maahad Ali yang menjadi sasaran program tersebar di 25 pesantren di Jateng. Beberapa di antaranya berlokasi di Rembang, Sragen, Kajen, Pati, Kudus, Tegal, Brebes, Purworejo, Banyumas, Wonosobo, dan Kota Semarang.
Skema kedua, Beasiswa Santri Penggerak, disiapkan untuk sekitar 120 mahasiswa dengan bantuan uang saku Rp 1 juta. Program ini menyasar mahasiswa yang kuliah sambil tinggal di pesantren dan aktif dalam organisasi intra atau ekstra kampus.
Bidang Studi yang Diprioritaskan
Sebelumnya, Pemprov Jateng telah menyalurkan beasiswa untuk santri pada sejumlah bidang studi strategis. Bidang-bidang tersebut mencakup S1 vokasi, sains dan teknologi, kedokteran, pertanian, hingga keislaman.
"Itu karena bidang-bidang itu sangat dibutuhkan di Jawa Tengah. Kemudian ada skema beasiswa kuliah luar negeri, double degree, dan beasiswa untuk pengasuh pesantren yang kuliah S2 dan S3," kata Hasyim.
Cara Mendaftar dan Jadwal Sosialisasi
Pendaftaran kedua program beasiswa ini dilakukan secara online melalui website resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Proses pendaftaran dibuka mulai 24 Agustus dan akan ditutup pada 24 September.
Untuk memperluas jangkauan, Pemprov Jateng akan menggelar sosialisasi secara daring dan luring. Sosialisasi ini melibatkan perguruan tinggi, Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI), serta asosiasi pondok pesantren di Jawa Tengah.
Hasyim menambahkan, program ini merupakan bentuk kepedulian Pemprov Jateng terhadap pesantren. "Pada umumnya para santri itu masyarakat miskin. Sehingga memang perlu perhatian serius dari pemerintah provinsi Jawa Tengah melalui program Pesantren Obah," ujarnya.
"Ini pemerintah provinsi Jawa Tengah ikut andil di dalam proses pembinaan dan pengembangan pesantren di Jawa Tengah," sambungnya.